Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Januari 2011

Sirri al-Saqathi.Beristighfar karena ucapan Al-Hamdulillah



Konon Sirri al-Saqathi, salah
seorang kaum Sufi, pernah
berkata, ”Sudah tiga puluh
tahun aku beristighfar kepada
Allah hanya karena ucapan al-
hamdulillah yang keluar dari
mulutku ” Tentu saja banyak
orang menjadi bingung dengan
pernyataannya itu lalu
bertanya kepadanya,
” Bagaimana itu bisa terjadi?”
Sirri berkata, ”Saat itu aku
memiliki toko di Baghdad.

Suatu saat aku mendengar
berita bahwa pasar Baghdad
hangus dilalap api, padahal
tokoku berada di pasar
tersebut. Aku bersegera pergi
ke sana untuk memastikan
apakah tokoku juga terbakar
ataukah tidak? Seseorang lalu
memberitahuku, ”Api tidak
sampai menjalar ketokomu”
Aku pun mengucapkan,
” Alhamdulillah!”
Setelah itu
terpikir olehku, ”Apakah
hanya engkau saja yang
berada di dunia ini? Walaupun
tokomu tidak terbakar,
bukankah toko-toko orang lain
banyak yang terbakar.
Ucapanmu : alhamdulilah
menunjukkan bahwa engkau
bersyukur bahwa api tidak
membakar tokomu. Dengan
demikian, engkau telah rela
toko-toko orang lain terbakar
asalkan tokomu tidak
terbakar!

Lalu aku pun
berkata kepada diriku sendiri
lagi, ”Tidak adakah barang
sedikit perasaan sedih atas
musibah yang menimpa
banyak orang di hatimu, wahai
Sirri ?” (Di sini Sirri menyitir
hadis Nabi, ”Barangsiapa
melewatkan waktu paginya
tanpa memerhatikan urusan
kaum muslimin, niscaya
bukanlah ia termasuk dari
mereka (kaum muslimin )”).
Sudah 30 tahun saya
beristighfar atas ucapan
alhamdulillah itu.
Kisah tentang Sirri al-Saqathi
ini merupakan sebuah contoh
bentuk cinta diri negatif yang
bisa kita katakan sebagai sifat
mementingkan diri sendiri.

Cinta diri seperti ini menutup
pintu bagi segala bentuk
perhatian yang sungguh-
sungguh pada orang lain.
Orang yang mementingkan
diri sendiri hanya tertarik
pada diri sendiri, dia
menghendaki segala-galanya
bagi dirinya sendiri, tidak
merasakan kegembiraan
dalam hal memberi dan hanya
senang jika menerima.

Dunia
luar hanya dipandang dari segi
apa yang dapat dia peroleh.
Dia tidak berminat untuk
memerhatikan kebutuhan-
kebutuhan orang lain dan
tidak menghargai kodrat serta
integritas mereka.

Orang
macam ini tidak bisa melihat
apa-apa selain dirinya sendiri.
Dia menilai setiap orang atau
lainnya hanya semata dari sisi
manfaat buat dirinya. Pada
dasarnya orang macam ini
tidak punya kemampuan
untuk mencintai.

Cinta diri dalam bentuk ini
bukanlah sesuatu yang
sesungguhnya maujud. Cinta
semacam ini sesungguhnya
hanyalah suatu bentuk
kegandrungan seseorang pada
dirinya sendiri. Karena itu
cinta diri seperti ini harus
disingkirkan.

Sebaliknya cinta
diri yang merupakan fithrah
yang ada pada diri manusia
seperti keinginan untuk
memuliakan diri, mensucikan
diri dan hal-hal semacam itu
tentu saja tidak boleh
diabaikan atau pun dibuang.
Perbaikan dan
penyempurnaan diri (nafs)
manusia justru merupakan
kemestian dan keharusan bagi
manusia untuk
mewujudkannya.

Jumat, 14 Januari 2011

Mutiara Nasehat al-Musnid al-Habib Umar bin Hafizh Keutamaan Shalat Berjamaah


NASEHAT PERTAMA: “Jangan Sekali-kali Meniggalkan Sholat Berjamaah. Di Rumah pun Kita Di Anjurkan Sholat Dengan Istri Dan Anak-anak Kita.”Rasulullah saw sangat menekankan tentang sholat berjamaah. Beliau saw bersabda: “Pahala shalat jamaah melebihi sholat sendiri sebanyak dua puluh tujuh derajat.”(HR.Muslim). Dikatakan bahwa satu dejarat adalah sejauh jarak langit dan bumi.
Di dalam hadits lain Rasul saw bersabda: “Demi yang jiwaku berada dalam genggamanNya, aku pernah berniat untuk memerintahkan mengumpulkan kayu bakar dan meminta seseorang untuk mengumandangkan azan untuk mengerjakan sholat, lalu memerintahkan seseorang untuk memimpin sholat dan aku akan pergi ke belakang rumah-rumah orang yang tidak pergi mengerjakan sholat (berjamaah). Demi yang jiwaku berada dalam genggamanNya, jika mereka tahu bahwa mereka dapat menemukan tulang yang tertutup daging yang baik atau dua kerat daging terdapat di antara dua tulang rusuk, maka ia akan pergi mengerjakan sholat isya (berjamaah).” (HR.Bukhari).
Sholat jamaah ini adalah untuk seluruh sholat wajib dan beberapa sholat sunnah,seperti sholat sunnah dua hari raya.
Masih terdapat beberapa riwayat shohih lain berkenaan dengan sholat jamaah. Salah satunya adalah riwayat Abdullah bin Mas’ud ra.: “Sesungguhnya Rasulullah saw telah mengajarkan kepada kita jalan petunjuk, di antaranya ialah sholat di masjid yang di kumandangkan azan di dalamnya.”(HR.Muslim).
Sholat  berjamaah adalah lebih utama di masjid, dan di rumah pun tetap di anjurkan untuk berjamaah. Berkenaan dengan keutamaan sholat berjamaah di masjid, Rasul saw telah bersabda: “Barangsiapa bersuci di rumahnya lalu pergi ke suatu masjid untuk menunaikan sholat yang telah Allah swt wajibkan kepadanya, maka setiap langkahnya menghapus sebuah kesalahan dan langkah yang satunya mengangkat satu tingkat derajatnya.” (HR.Muslim).
Sholat wajib adalah sangat utama di lakukan di masjid, sedangkan sholat sunnah adalah lebih utama di lakukan di rumah. Hal ini adalah berdasarkan riwayat shohih dari Rasulullah saw. Nasihat pertama ini di tutup dengan perkataan seorang salaf tentang sholat berjamaah, bahwa Sa’id bin Musayyab berkata: “Barangsiapa yang bisa menjaga sholat lima waktu secara berjamaah, maka ia telah memenuhi daratan dan lautan dengan ibadah.” Wallahu a’lam.
Majelis Nurunnabawiy

Sayyidina Ali menjawab pertanyaan yahudi ‘tentang sesuatu yang tidak dimiliki Allah, dan sesuatu yang tidak ada pada Allah, serta serta sesuatu yang tidak diketahui Allah?’


Sayyidina Ali K.W: Pintu Ilmu kenabian
Ini sepenggal kisah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib kw. Suatu hari Anas bin Malik menyaksikan seorang Yahudi yang datang menghadap Khalifah Abu Bakar dan berkata, “Aku ingin bertemu dengan khalifah Rasulullah saw.” Para sahabat membawanya kepada Khalifah Abu Bakar. Dihadapan Abu Bakar, orang Yahudi berkata, “Anda khalifah Rasulullah saw?”
Khalifah Abu Bakar berkata, “Ya, tidakkah kamu melihat aku di tempat dan mihrab beliau?” Orang Yahudi itu berkata, “Jika Anda sebagaimana yang Anda katakana, wahai Khalifah Abu Bakar. Aku ingin bertanya kepada Anda tentang beberapa masalah.” Khalifah berkata, “Bertanyalah semaumu!”
Orang Yahudi itu bertanya, “Beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang tidak dimiliki Allah, yang tidak ada pada Allah dan yang tidak Allah ketahui?” Khalifah berkata, “Itu adalah masalah-masalah orang zindiq (atheis) wahai orang Yahudi!”
Waktu itu, orang-orang Muslim hendak membunuh orang Yahudi itu. Ibnu Abbas segera berteriak dan berkata, “Wahai Khalifah Abu Bakar, janganlah tergesa-gesa membunuhnya!” Khalifah Abu Bakar berkata, “Tidakkah kamu mendengar apa yang telah dikatakannya?”
Ibnu Abbas berkata, “Kalau Anda mempunyai jawabannya, jawablah! Jika tidak, keluarkan dia ke tempat yang dia sukai.”
Akhirnya mereka mengusirnya. Yahudi itu berkata, “Semoga Allah melaknat suatu kaum yang duduk bukan pada tempatnya. Mereka hendak membunuh jiwa yang diharamkan Allah untuk dibunuh tanpa pengetahuan.” Dia pun akhirnya keluar seraya sesumbar, “Wahai manusia Islam telah sirna. Mereka tidak dapat menjawab. Mana Rasulullah dan Khalifah Rasulullah?”
Ibnu Abbas mengikuti orang Yahudi itu dan berkata kepadanya, “Pergilah kepada ilmu kenabian dan ke rumah kenabian Sayyidina Ali bin Abi Thalib!” Sementara itu, Khalifah Abu Bakar dan kaum Muslimin mencari orang Yahudi itu. Mereka mendapatkannya di jalan dan membawanya kepada Sayyidin Ali bin Abi Thalib. Mereka meminta izin darinya untuk masuk. Orang-orang berkumpul. Sebagian ada yang menangis dan sebagian lagi tertawa. Khalifah Abu Bakar berkata, “Wahai Abu al-Hasan, orang Yahudi ini bertanya kepadaku beberapa masalah dari masalah orang-orang zindiq (atheis).”
Sayyidina Ali berkata, “Wahai orang Yahudi apa yang kamu katakana?” “Aku bertanya tetapi Anda akan berbuat yang serupa dengan perbuatan mereka.” Sayyidina Ali berkata, “Apa yang hendak mereka perbuat?” Yahudi itu berkata, “Mereka ingin membunuhku!” Sayyidina Ali berkata, “Jangan khawatir. Tanyalah semuamu!”
Orang Yahudi itu berkata, “Pertanyaan ini tidak diketahui jawabannya kecuali oleh seorang nabi dan pengganti nabi.” Sayyidina Ali berkata, “Tanyalah sesukamu.” “Jawablah tentang sesuatu yang tidak dimiliki Allah, dan sesuatu yang tidak ada pada Allah, serta serta sesuatu yang tidak diketahui Allah?”, tanya orang Yahudi.
Sayyidina Ali menjawab, “Dengan syarat wahai saudara Yahudi!. “Apa syaratnya?”, tanyanya. Sayyidina Ali berkata, “Kamu mengucapkan bersamaku dengan benar dan ikhlas, “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah.” Yahudi itu berkata, “Baik, wahai tuanku.” Sayyidina Ali berkata, “Wahai saudara Yahudi. Adapun pertanyaanmu tentang sesuatu yang tidak dimiliki Allah adalah istri dan anak.”
Orang Yahudi itu terperangah. Ia berkata, “Anda benar, wahai tuanku.” “Adapun pertanyaan kamu tentang sesuatu yang tidak ada pada Allah adalah kezaliman.” “Sedangkan pertanyaanmu tentang sesuatu yang tidak diketahui Allah adalah sekutu dan kawan. Dia Mahamampu atas segala sesuatu”, jawab Sayyidina Ali.
Mendengan jawaban Sayyidina Ali, saat itu juga ia berkata, “Ulurkan tanganmu, aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah. Anda adalah khlifahnya (penggantinya) dan pewarisnya.”
Orang-orang serantak bersorak senang. Khalifah Abu Bakar berkata, “Wahai penyingkap kesedihan, wahai Ali engkau adalah pelegah kegelisahan dan penghilang dahaga”.
Ali Syari’ati salah seorang sastrawan relegius asal Iran, ketika menuliskan Fathimah as, ia berkata, “Fathimah is Fathimah”. Tidak ada kata yang dapat menguraikan kemuliaan putri Rasulullah itu dimatanya. Lidah pun kelu ketika mencoba mengungkapkan sisi kehiduan suaminya, Imam Ali bin Abi Thalib. Cukuplah disini saya kutipkan perkataan Imam Syafi’i dan Ibn Sina tentang Ali. Imam Syafi’i berkata, “Apa yang bisa kukatakan tentang seseorang yang memiliki tiga sifat bergandengan dengan tiga sifat lainnya, yang tak pernah ditemukan bergandengan dalam diri siapa pun. Kedermawanan dengan kefakiran, keberanian dengan kecerdas-bijakan, dan pengetahuan teoritis dengan kecakapan praktis”. Sedang Ibn Sina berucap, “Imam Ali dan Al-Quran merupakan dua mukjizat Nabi saw. Kehidupan Imam Ali pada setiap fase sejarah Islam menjadi sebuah cermin – layaknya cerminan kehidupan Sang Nabi”.
Dikutip dari hikmah sufi

Kisah indah Ibnu Hajar dengan Seorang Yahudi tafsir hadist “addunya sijnul mukmin wa jannatul kafir”. kitab “Fathul Majid” bab sifat jaiz Allah karya Imam Nawawi Al Bantani.

Ibnu Hajar rahimahullah dulu adalah seorang hakim besar Mesir di masanya. Beliau jika pergi ke tempat kerjanya berangkat dengan naik kereta yang ditarik oleh kuda-kuda atau keledai-keledai dalam sebuah arak-arakan.
Pada suatu hari beliau dengan keretanya melewati seorang yahudi Mesir. Si yahudi itu adalah seorang penjual minyak. Sebagaimana kebiasaan tukang minyak, si yahudi itu pakaiannya kotor. Melihat arak-arakan itu, si yahudi itu menghadang dan menghentikannya. Si yahudi itu berkata kepada Ibnu Hajar:
“Sesungguhnya Nabi kalian berkata: ” Dunia itu penjaranya orang yang beriman dan surganya orang kafir. ” (HR. Muslim). Namun kenapa engkau sebagai seorang beriman menjadi seorang hakim besar di Mesir, dalam arak-arakan yang mewah, dan dalam kenikmatan seperti ini.
Sedang aku –yang kafir- dalam penderitaan dan kesengsaran seperti ini.” Maka Ibnu Hajar menjawab: “Aku dengan keadaanku yang penuh dengan kemewahan dan kenimatan dunia ini bila dibandingkan dengan kenikmatan surga adalah seperti sebuah penjara. Sedang penderitaan yang kau alami di dunia ini dibandingkan dengan yang adzab neraka itu seperti sebuah surga.”
Maka si yahudi itupun kemudian langsung mengucapkan syahadat: “Asyhadu anlailaha illallah. Wa asyhadu anna Muhammad rasulullah,” tanpa berpikir panjang langsung masuk Islam.

Alasan mencintai Habaib

Kata Habib secara bahasa merupakan wazan fa’il dengan makna muhibbun artinya orang yang mencintai, dan bisa juga mahbubun yang berarti orang yang dicintai. Di Indonesia, kata Habib ini digunakan untuk panggilan kepada itroturrasul saw atau anak cucu keturunan Rasulullah saw. Tersebut dalam Kitab Syarah ‘Uqudullujjain fi bayani huquqizzaujain, karya Syeikh Annawawiy AlBantani, sebagai berikut :
Menurut istilah sebagian orang, bahwa anak cucu Rasulullah saw apabila laki-laki disebut Habib, dan jika wanita disebut Habbabah. Sedangkan istilah kebanyakan orang adalah Sayyid dan Sayyidah.
Sudah barang tentu leluhur para Habaib datang ke berbagai penjuru dunia, termasuk juga ke Indonesia, adalah untuk nasyrud da’wah, menyiarkan dakwah. Hal tersebut dapat diketahui dari tarikh masuknya Islam ke berbagai negara di dunia ini, bukan hanya Indonesia.
Habaib yang berada di Indonesia ini, terutama yang kami ketahui di Jabodetabek dan tanah jawa, tiap pribadi mereka mempunyai silsilah keturunan dari : Sayyidina Alfaqihul Muqaddam ra., dari Sayyidina Ahmad Almuhajir ra., dari Sayyidina Ja’far Asshadiq ra., dari Sayyidina Muhammad Al-Baqir ra., dari Sayyidina Ali Zainal ’Abidin ra., dari Sayyidinal Husain ra. dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karromallahu wajhahu dan Sayyidatina Fathimatuzzhra ra., dari junjungan kita Rasulullah saw.
Dewasa ini, para Habaib di Indonesia sudah menjadi warga negara Republik Indonesia, karena mereka telah turun-temurun tinggal di tanah air. Dan mereka juga telah membaur dengan kebudayaan setempat.
Karena demikian membaurnya, terkadang tidak jarang identitas mereka sebagai keturunan Rasulullah saw tidak dikenal khalayak umum lagi. Hal ini terjadi karena sifat tawadhu yang ada pada dzurriyaturrasul saw ini yang tidak mau menonjolkan dirinya dan tidak mau mencari ketenaran yang tidak diperlukan oleh agama.
Selain kata Habib, ada istilah lainnya yang biasa digunakan untuk panggilan kepada anak cucu Rasulullah saw ini. Misalnya kata Sayyid, Sayyidah, Syarief, dan Syarifah. Bahkan ada panggilan keakraban yang ambil dari penggalan kata tersebut, seperti Ayip yang disingkat dari Syarief. Atau Ipah dari kata Syarifah. Atau di Tb dari Tubagus yang diambil dari kata Thoyyib yang berarti baik. Istilah Tb ini biasanya untuk anak cucu keturunan Sulthan Hasanuddin Banten yang juga merupakan keturunan Rasululllah saw.
Alasan mencintai Habaib
Untuk lebih mencintai para Habaib ini, mari kita menelaah firman Allah swt. dalam suratus Syuraa ayat 23, sebagai berikut :
Katakanlah olehmu. Aku tidak minta upah kepadamu dalam menyampaikan risalah ini. Hanya kecintaan kepada kaum kerabatku.
Keterangannya termaktub dalam Tafsirul Munir li ma’alimit tanzil, karya Syekh Nawawi Al bantani, juz ke Il halaman 269, sebagai berikut:
Katakanlah olehmu : Aku tidak minta kepadamu upah karenanya, kecuali cinta terhadap para keluarga.
Artinya . Katakanlah olehmu wahai semulia-mulia makhluk, kepada ahli Makkah Aku tidak minta kepadamu upah sekali-kali atas menyampaikan khabar gembira dan ancaman, tetapi minta kepadamu kecintaan yang menetap pada ahli kerabat. Dan menyintai keluarga Nabi Muhammad itu wajib. Telah berkata Imam Syafi’i ra. Wahai pengendara, berhentilah engkau di tempat melontar Jamroh di Mina.
Dan teriakkanlah terhadap orang yang mendiami masjid Khaif dan yang bangkit daripadanya diwaktu dinihari bila melirnpah Jama’ah Haji ke Mina, laksana limpahan air tawar yang melimpah. Jika yang disebut haluan Rafidhi itu, cinta kepada keluarga Nabi Muhammad. Maka hendaklah jin dan manusia menyaksikan, sesungguhnya aku ini Rafidhi.
Rafidhi adalah satu kelompok daripada Ash-habussyi’ah.
Tersebut pula, dalam Taajuttafsir li kalaami MalikiI Kabir, karya Sayyid Muhammad Utsman Almirghani juz II,
Katakanlah terhadap mereka wahai Nabi yang Mulia. Aku tidak meminta kepadamu, (aku tidak menuntut kepadamu, karena menyampaikan risalah dan keikhlasanku sebagai petunjukku bagimu), akan upah (manfaat daripadamu) kecuali kecintaan (ada dibaca mawaddatan) pada para kerabat (Dan bahwasannya kamu sayangi dan cintai kerabatku karena aku).
Dan tatkala turun ayat ini, Beliau ditanya orang : “Ya Rasulullah, siapakah kerabat Tuanku?” Beliau menjawab :”Ali, Fathimah dan anak keduanya.”
Ahlu bait mempunyai keutamaan, di mana selayaknya kita memuliakan mereka. Yang dikehendaki ahli bait di sini adalah mereka yang diharamkan menerima shadaqah wajib. Dan mereka itu menurut Imam kita Syafi’i ra. adalah orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan dari Bani Hasyim dan Bani Muththalib.
Perhatikanlah firman Allah swt pada suratul Ahzaab ayat 33, sebagai berikut:
Hanyasanya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kamu wahai ahli bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.
Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. dari Abi Bakr Ash-shiddiq ra. yang mauquf atasnya:
Indahkanlah Nabi Muhammad saw dalam ahli rumahnya. (HR. Albukhari).
Menurut An Nawawi dalam Riyadlush Shalihin :
Makna Indahkanlah adalah peliharalah, hormatilah, dan muliakanlah dia.
Mengenai apakah Habib itu diharamkan masuk neraka, dan pasti masuk surga adalah suatu hal yang amat wajar.
Menurut apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw.:
Karena sesungguhnya Allah mengharamkan neraka atas orang yang mengucapkan Laailaha illallah, yang dikehendakinya dengan kata-kata itu adalah ridhanya Allah swt.
Seorang Habib, adalah anggota keluarga Rasulullah saw. yang patuh dan mengikuti perilaku Rasulullah saw. Menjalankan perintah, menjauhi larangan, melazimkan sunnah, memberikan contoh-contoh yang baik sesuai dengan agama Allah, ikhlas, zuhud, wara’ dan Tawakkal, sesuai dengan janji Allah bahwa mereka inilah penghuni-penghuni surga dan jauh dari api neraka. Seorang yang dianggap keluarga Rasulullah saw. adalah mereka yang Taqwa.
Terbukti Abu Lahab, karena dia tidak beriman, penghalang besar atas perjuangan Rasulullah saw, walaupun paman beliau sendiri, tetapi bukanlah keluarga dan bukanlah Habib.
Perhatikanlah firman Allah swt. dalam Surat Hud ayat 45 – 46, sebagai berikut :
Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata :”Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah yang paling adil di antara semua Hakim”. Allah berfirman : “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya merupakan perbuatan yang tidak baik.”
Wallahu a’lam

Syekh Ahmad ar-Rifa’i : Kisah Sufi Penyayang Binatang


Mungkin sulit sekali mencari penyayang binatang semacam Syekh Ahmad ar-Rifa’i. Beliau adalah tokoh sufi besar pendiri tarekat Rifa’iyah, sebuah ordo sufi yang memiliki banyak pengikut, terutama di daratan Afrika Utara.
Konon, bila ada nyamuk hinggap dan menggigitnya, beliau tidak pernah mengusirnya. Bila ada orang hendak mengusir nyamuk yang menggigit tubuh beliau itu, beliau justru melarangnya.
“Biarkan nyamuk ini minum dari darah yang telah dijadikan sebagai bagian rejekinya oleh Allah,” kata beliau.
Bila ada belalang hinggap di pakaiannya saat sedang berjalan di bawah terik matahari, maka beliau mencari tempat yang teduh. Beliau duduk berdiam diri di situ sampai belalang itu pergi sendiri. “ Belalang ini ingin berteduh dengan bantuan kita,” katanya.
Konon pernah ada seekor kucing tidur di atas lengan baju miliknya. Beliau tidak sedikitpun mengganggunya sampai kucing itu bangun sendiri dan pergi. Ketika waktu salat tiba, Syekh ar-Rifa’I tetap tidak mau menarik lengan bajunya. Beliau malah menggunting lengan bajunya itu, lalu pergi salat. Setelah kucing itu bangun dan pergi, beliau menjahit kembali lengan bajunya itu. Subhanallah!
Suatu waktu, Syekh ar-Rifa’I pernah mendapati seekor anjing dengan tubuh nyaris hancur penuh kudis. Anjing itu diusir penduduk karena tubuhnya betul-betul menjijikkan. Maka, Syekh mengantarkannya ke sebuah gurun tak berpenghuni. Di tempat itu, beliau membuatkan sebuah kandang yang teduh untuk anjing tersebut. Lalu beliau meminyaki tubuhnya, menyediakan makan dan minumnya, juga menggosok kudisnya dengan sebuah kain. Setelah anjing itu sembuh, beliau membawakan air hangat, lalu memandikannya.
Sumber Majalah Alkisah

Rasululullah bersabda “kemuliaan dan kasih sayang Allah dan Rahmatnya semoga untuk Abu dzarr”


Abu dzarr Al Ghiffarri Ra di riwayatkan di dalam Sirah Ibn Hisam, keledainya sudah tua dan lemah, akhirnya lambat, akhirnya dia turun membawa barangnya dia panggul, dia jalan kaki sendiri menelusuri jalan untuk mengikuti pasukannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat Rasul Istirahat.
“ya Rasulullah ada orang berjalan kaki bawa barang – barangnya”, Rasul berkata “Pasti Abu dzarr..!, betul saja, Rasul bersabda : “kemuliaan dan kasih sayang Allah dan Rahmatnya semoga untuk Abu dzarr, Dia jalan datang sendirian menyusul kita, nanti wafatnya sendiri dan nanti akan di bangkitkan di hari kiamatpun sendiri, oleh Allah di muliakan.
Maka periwayat Hadits ini, yaitu Sayyidina Abdullah bin Mas’ud Ra, jauh setelah wafatnya Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam ia melihat Abu dzarr ra, saat berjalan menuju Madinah menuju Iraq, maka ia melihat di satu tempat terbujur jenazah, terus ada seorang anak kecil berdiri di tengah jalan bersama wanita, di pinggir jalan
“ini jenazah siapa menghalangi jalan, hampir saja terinjak oleh kudaku” kata Abdullah bin Mas’ud ra “aku mau buru – buru ke Madinah” Lalu anak itu berkata “ini ayahku Abu dzarr ia wasiat katanya kalau ia wafat , tolong di tutup tubuhnya lalu palangkan di jalan, nanti ada orang dari sahabatku yang akan menemuiku, orang pertama yang menemui jenazahku, kasih tahu aku adalah Abu dzarr minta di makamkan dengan pemakaman yang layak “
Maka menangis Abdullah bin Mashud Ra
Ia berkata “ini ucapan Rasulullah di perang Tabuk, ia datang sendiri, wafat sendiri dan di bangkitkan kelak sendiri dengan Allah subhanahu wata’ala”
Sumber Majelis Rasulullah

Kamis, 13 Januari 2011

Kisah Sakit Mata Imam Junaid dalam Kitab Irsyadul Ibad


Alkisah Imam Junaid al Baghdadi mengalami sakit pada kedua matanya. Setelah sekian lama mencoba pengobatan, bertemulah beliau pada seorang tabib nasrani. Tabib tersebut memeriksa dan berkata; “sakit mata ini bisa sembuh, asal tidak sampai terkena air. jadi jangan dulu membasuh matamu dengan air.”
Sampai di rumah, Imam Junaid malah menuju tempat air dan berwudlu dengan sempurna, lalu menjalankan shalat sunnah dua rakaat. Kemudian membaringkan tubuhnya di tempat tidur untuk beristirahat.
SubhanaLlaah, ketika terbangun, matanya telah sembuh seperti sedia kala. Saat itu ada suara hatif yang membisikkan kepada imam junaid, “imam junaid sembuh karena memilih ridlo Allah dibanding matanya sendiri”
Dan ketika tabib nasrani mengerahui kabar jika Imam Junaid telah sembuh, dia pun menanyakan pada beliau. Sang tabib terkejut karena obat sakit mata Imam Junaid bukan menghindari air seperti sarannya tapi justru berwudlu yang artinya membasuh wajah beserta mata dengan air. Karena takjub dengan hal itu, sang tabib pun menyatakan keimanannya, berpindah ke agama Islam. kepada tabib, Imam Junaid berkata: ” penyakit ini dari Allah bukan mahluk, maka obatnya pun dariNya”
Sungguh….cerita di atas hanya salah satu dari sekian banyak bukti manfaat dari wudlu. Wudlu, jika dilakukan dengan benar dan sempurna akan membuat wajah bersinar dan menjauhkan dari berbagai sakit. Wudlu juga bisa merontokkan kotoran-kotoran yang menempel di anggota tubuh kita. Baik kotoran nyata maupun kotoran tak nyata, yaitu dosa atau perbuatan buruk yang kita lakukan dengan anggota badan kita tersebut.
WaLlahu a’lam.
*disarikan dari pengajian kitab Irsyadul Ibad, asuhan ustad Shampton…:)*

Renungan bagi jomblowati ‘Mencintai itu adalah kewajaran’ - dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)

Tak ada yang bisa menyangkal, bahwa tidak ada seorang pun yang steril dari yang namanya cinta. Meski ia telah setingkat da’i atau da’iyah. Tak ada yang bisa mencegah datang virus itu, seperti sanandung puisi berikut:
Cinta……. Menembus ruang dan batas
Menggelora, meradang dan mematikan
Kala cinta merasuk sukma
Membekukan akal, menghempas rasa
Jika tidak karena-Nya
Kemana kan dibawa lari sekeping hati pecinta??
Kita akan bicara tentang cinta. Sesuatu yang Allah tanamkan fitrahnya pada setiap jiwa. Tapi alangkah hinanya bagi pecinta yang terbelenggu oleh cintanya.
Duhai saudariku…….
Mencintai itu adalah kewajaran……..!!! Apalagi bagi seorang wanita yang telah memasuki usia dimana kebutuhan kasih sayang dan penjagaan dari seorang lelaki sudah sangat dirindukannya.
Tapi ingatlah wahai sahabatku, janganlah engkau tanggalkan kehormatanmu dengan mengumbarnya di antara manusia. Dengan cara apapun, dengan dalih apapun, dengan susunan kata semanis apapun, sekuat apapun dorongannya jangan engkau tertipu oleh rayuan syaetan. Betapa senangnya syaetan bila manusia telath terkena panahnya. Panah yang akan membuat manusia mabuk cinta dan menjadikan halal segala cara apapun untuk mendapatkannya.
Maka jadilah sms merah jambu, surat-surat cinta, dan lainnya yang padahal bisa jadi syaetan telah mengemasnya menjadi kemasan yang akan mengundang kemurkaan Allah.
Saudariku…..
Bersabarlah di saat malam gelap gulita membekap. Bersabarlah di antara sujud panjangmu, di antara harap dan do’amu kepada Allah dengan kedatangan pangeran yang akan menjemputmu. Bersabarlah terus di antara dua lelehan air matamu karena berharap yang terbaik dariNya.
Sungguh itu lebih baik bagimu dan yang lebih Allah ridhoi daripada selainnya. Walaupun sulit, terasa berat, tidak tahan menunggu kepastiannya, namun tetaplah seperti itu, sabar, sabar dalam penantianmu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang terbaik bagimu.
Bukankah janji Allah sudah jelas:
“…… dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” {QS. An Nuur : 26}
Terasa sulit memang….. hati itu terkadang begitu cepat berbolak balik. Terkadang ia kuat bagai benteng kokoh, tapi sering pula ia rapuh bak rumah kardus di bawah kolong jembatan. Di satu sisi kita senantiasa menginginkan tunduk pada perintah-perintah Allah, perintah menundukkan pandangan, perintah mengulurkan jilbab, perintah terus memperbaiki didi dari hari ke hari.
Namun, di sisi lain, syaetan senantiasa bergerak dan bekerja untuk menggoda manusia. Sehingga terkadang dalam penantian panjang ini ada kalnya terselip pandangan yang belum halal, ada perkataan yang belum halal, ada usaha mencari perhatian yang belum halal.
Saudariku…..
Saat ini, di tengah malam ini mari kita tengok jendela-jendela yang terbuka. Di atas ribuah sajadah, bersimpuh wanita-wanita yang sedang merindu. Tetesan-tetesan air mata mereka terus membasahi bumi, air mata mujahidah yang sangat takut tergelincir kepada kemaksiatan. Berjuta sorotan mata yang hanya ditujukan kepadaNya.
Dan engkau ….., apakah engkau termasuk bagian dari wanita bersimpuh itu, sabarlah. Benar, tidak mudah. Tapi tidak ada yang salah dengan janjiNya. JanjiNya adalah keniscayaan terindah, walau itu harus kau tebus dengan kesabaran yang berpeluh kesah. Janganlah lelah memuliakan dirimu. Bukan untuk dia, bukan utnuk dirimu sendiri.
Tapi semata hanya untuk Rabbmu. Sungguh itu bagian dari tarbiyah dengan cara yang berbeda. Dan Maha Benar Allah, lelaki mulia itu akan datang atas nama kemuliaan pernikahan. Tanpa engkau perlu teriaki, dia telah mendengar dengan kesediaan tertinggi akan seruan lembut RabbNya, yang disampaikan kepada hamba terkasih dan utusanNya.
“Wahai para pemuda, barangsiapa telah mampu di antara kalian, hendaklah ia menikah, karena ia dapat menundukkan pandangan dari menjaga……” [HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dan Nasa’i]
Lelaki yang senantiasa menjaga kehormatan itu pasti akan datang, lelaki yang setiap malam engkau tangisi itu pasti akan mengetuk pintu rumahmu, lelaki yang akan menjaga kehormtan yang senantiasa engkau jaga itu pasti akan menjemputmu dengan kesederhanaan dan senyuman terindah yang tetulus dari hatinya, lelaki yang akan menemanimu sholat di malam hari, menasehatimu di kala senang dan menghiburmu di kala sedih.
Adakah itu yang engkau harapkan wahai saudariku….???
Ataukah lelaki itu masih engkau harapkan datang dari kemaksiatanmu kepada Allah dan lebih dicintai oleh syaetan…..???

Cerita dari Habib Hasan bin Ja’far Assegaf (Nurul Mustafa) tentang Al Habib Abdullah bin Abdulqadir Bil Faqih bertemu dengan Nabiyullah Khidir


Aku Mendengar dari guruku, as-sayyid al-walid habibana Hasan bin ja’far assegaf,dan bliau sendiri yg mengalaminya.
suatu ketika,semasa habib Hasan di pesantren darul hadist malang, beliau dipanggil oleh gurunya untuk membuat teh 2 gelas,lalu habib Hasan bingung berfikir dalam hati beliau, kan ga ada tamu kok minta bikin 2 gelas teh…
krena printah guru bsar,beliau turuti….
Singkat cerita jadilah teh itu dibawa kehadapan guru beliau Habib Abdullah bin Abdulqadir Bil Faqih. lalu habib Hasan berfikir,klo teh itu untuk beliau berdua. Ternyata Habib Hasan disuruh keluar,ya Hasan ente boleh keluar (perkataan Habib Abdullah Bil Faqih).
lalu Habib Hasan keluar,dari kejauhan Habib menunggu tamu siapa yg akan datang. Dan lalu tiba-tiba datang tukang siomay berpakaian compang camping dengan mengenakan handuk kcil dilehernya, lalu tukang siomay itu diciumi kening dan pipinya oleh gurunya Habib Hasan. Dan tekang siomay itu memegang jenggot gurunya, dalam hati Habib Hasan bertanya-tanya siapa dia lancang sekali tidak lama kemudian, karena Habib Hasan perutnya sakit beliau menuju belakang (kamar mandi), tidak selang lama panggilan adzan datang. Lalu Habib Hasan buru-buru menuju masjid, dan ketika sebelum sampai masjid bertemu guru beliau al Habib Abdullah bin Abdulqadir bin Ahmad Bil Faqih lalu beliau bercakap-cakap dengan Habib Hasan,
“ya Hasan kmana td ente”, dg polosnya beliau jawab
“ane ke belakang bib sakit perut”,
lalu guru bliau bilang lagi,
“coba tadi ente sabar sebentar menunggu ane,ane ajak salaman ma beliau”
Habib Hasan kaget dan berkata, “kan cuma tukang siomay ya Habib”. lalu guru beliau berkata
“enak aje ente,ente liat pake kaca mata gag.itu nabi yaallah khidir yg bertamu ama ane,klo bliau pake gamis n imamah rapih,org2 pada mau salaman”
subhanallah,ini terjadi waktu tahun 80an

Kalam Al-Habib Muhammad bin Abdullah Alaydrus

Wahai saudaraku, beradablah ketika mendengarkan pembicaraan. Janganlah sekali-kali kamu hentikan atau dan sangkal ucapan seseorang di hadapan khalayak ramai. Perbuatan itu sangat buruk. Jika temanmu salah, dan kesalahannya tidak membahayakan, maka maafkanlah. Jangan kamu tunjukkan kesalahannya di hadapan orang banyak. Jika ingin menegur kesalahannya, tunggulah hingga tinggal kalian berdua. Jika kesalahannya adalah kesalahan yang wajib dikoreksi di hadapan orang banyak agar tidak mempengaruhi pikiran mereka, maka lakukanlah dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang, jangan dengan kasar. Jika teguran itu membuatnya malu, maka itu adalah salahnya sendiri. Dia yang berbuat, (dia harus berani menanggung akibatnya).

Jika kamu seorang pemimpin dan pemuka masyarakat, bicaralah dengan lemah lembut, tenagkanlah nafs-mu, jauhilah sikap ujub dan tajjabur (sombong). Sebab, sikap itu akan memadamkan cahaya dan kilauan ilmumu. Jika kamu ingin selalu senang (rohah), memperoleh pujian dan pahala, maka jangan debat lawan bicaramu, dan jangan mengungkit-ungkit kesalahan-kesalahan kaum sholihin. Jika ucapanmu disangkal, tetaplah berteguh hati, jangan mengeluh. Jika kamu temui hal-hal yang tidak kamu sukai, maka tanggunglah perasaan itu dan jangan membalas, karena yang demikian itu adalah sikap orang-orang yang teguh dan suka ber-riyadhoh; sikap kaum sholihin yang kuat. Betapa banyak ucapan yang jawabannya adalah diam. Seorang penyair berkata:

Tidak semua ucapan perlu jawaban,
'tuk ucapan yang kau benci, diamlah jawabnya

Siapa Penerus Rasulullah Saw???

Allah SWT Berfirman : “Aku akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu”. Nabi SAW bersabda : “Ulama adalah pewaris-pewaris Rasulullah SAW”

Siapa ulama penerus Nabi Muhammad SAW?
Di dalam Al-Qur`an dan Hadits di atas banyak pendapat bahwa Ulama adalah penerus Nabi Muhammad SAW yang diteruskan oleh sahabat-sahabatnya, diantaranya :

1. Sayyidina Abubakar Assiddiq RA
2. Sayyidina Umar bin Khatab RA
3. Sayyidina Ustman bin Affan RA
4. Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA

Setelah kewafatan para sahabat periwayat-periwayat hadits dan Al-Qur`an diteruskan oleh para ulama, diantaranya :

1. Imam Maliki
2. Imam Hambali
3. Imam Syafi`i
4. Imam Hanafi

Seluruh Imam ini penerus Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan tentang Allah dan Rasulullah SAW. Sampai hari ini, ajaran merekapun dilanjutkan oleh pengikut-pengikut mereka. Terutama di negeri kita Indonesia kebanyakan pengikut Imam Syafi`i.

Siapa Imam Syafi`i?
Beliau seorang ahli Fiqih, Tauhid dan Tasawuf. Hampir kurang lebih 150 Fak ilmu beliau kuasai. Karena kepintarannya beliau dijuluki Imam. Ajaran beliau di Indonesia khususnya mengajak kepada umat Rasulullah SAW untuk :

1. Tawakal (Menyerahkan diri kepada Allah SWT)
2. Qana`ah (Menerima sifat seadanya yang datang dari Allah SWT)
3. Wara’ (Berhati-hati didalam menjalankan agama)
4. Yakin (Percaya kepada Allah SWT dan apa-apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW)

Beliau menceritakan tentang Tawakal dalam kitab Tauhidnya, Qana`ah dalam kitab Fiqihnya, Wara' dalam kitab Tasawufnya dan Yakin dalam kitab Dzikirnya. Kesemua ini ilmu-ilmu beliau digunakan oleh para Wali-Wali Songo yang ada di Indonesia dan dibawa olehnya, diantara dzikir-dzikir yang dibawa oleh Imam Syafi`i dan para Wali Songo yang diteruskan olehnya :

1. Pembacaan Dzikir-dzikir shalat sunah maupun shalat wajib.
2. Pembacaan sejarah ringkas Nabi Muhammad SAW

Ajaran beliau diterima oleh seluruh rakyat Indonesia yang dibawa oleh para Wali Songo sampai ajaran ini dinamakan Ahlu Sunnah Wal Jama`ah yang diteruskan oleh Ulama-Ulama, Kyai dan para Habaib pada tahun 600 Hijriyah.

Ulama-ulama, kyai diseluruh Indonesia yang ber-Mahzab Imam Syafi`i menyebar di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi khususnya kota Jakarta bersama para Habaib. Jadi ajaran Imam Syafi`I telah lebih dahulu masuk ke negeri Indonesia sebelum ajaran-ajaran lain yang sudah demikian banyak di negeri Indonesia ini. Ajaran Imam Syafi`i lebih dikenal dekat oleh masyarakat dalam bentuk :

1. Pembacaan Yasin dan Tahlil
2. Pembacaan Ratib
3. Pembacaan Maulid
4. Pembacaan Manaqib Tuan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
5. Majlis-majlis ta`lim kitab kuning (penafsiran Al-Qur`an dan Hadits)
6. Memakai Usholi jika shalat
7. Memakai Qunut jika shalat Shubuh.

Dan masih banyak lagi yang lain yang berdasarkan Al-Qur`an dan Hadits Rasulullah SAW yang beliau bawa. Maka inilah yang disebut penerus-penerus ulama Rasulullah SAW yang wajib kita sebagai umat Islam tidak terpecah belah, ajaran-ajaran yang baru yang akan melupakan kita kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW dan para ulama yang membawa jasa seperti Imam Syafi`i dan para Wali Songo.

Demikianlah pengertian ulama-ulama Rasulullah yang wajib kita contohi dan kita ikuti agar kita selamat dari azab Allah SWT dan azab yang ada di dunia dan di akherat. Jadikanlah perbedaan itu bukan perpecahan karena Nabi SAW bersabda : “Apabila diakhir hayatnya manusia mengucapkan kalimat Laa IlahaIlallah maka dia terhitung manusia yang diridhoi Allah dalam khusnul khotimah”. Karena Allah SWT berfirman : ”Tidak ada pemaksaan di dalam agama”

Ummat Islam harus waspada terhadap hasutan dan usaha-usaha (sisa-sisa usaha) penjajah dan antek-antek Yahudi yang tidak menyenangi/ menghendaki kebesaran Islam dan Muslimin dan berupaya menghancurkan serta menghapuskan kawan-kawan Muslimin yang menjadi tujuan serta program dari mereka (Yahudi), Allah SWT berfirman : “Dan tidak akan pernah ridho orang-orang Yahudi dan Nasrani sampai kita mengikuti agama mereka”(QS Al-Baqarah 120). Dengan bermacam-macam dan berganti-ganti cara serta berusaha menunggangi/ memperalat orang Islam itu sendiri untuk memutuskan jalur silaturahmi ummat dengan Nabinya, Ulamanya dan Pemimpinnya baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

Himbauan :
Carilah jalan yang telah bersambung kepada Al-Qur`an, Hadits, Ijma' dan Kias (contoh-contoh agama), melalui silsilah atau urutan ilmu yang tidak terputus dari Shalafuna Sholeh hingga kepada Rasulullah SAW, maka niscaya kita akan selamat di dunia dan di akhirat.

As-SYAMAIL

as-Syamail
kepribadian dan Budi Pekerti Rasulullah saw.
Muhammad bin ‘Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dhahhak as-Sulami.
(Imam at-Tirmidzi).
BENTUK TUBUH RASULULLAH SAW.
“Rasulullah saw. bukanlah orang yang berperawakan terlalu tinggi, namun tidak pula pendek. Kulitnya tidak putih bule juga tidak sawo matang. Rambutnya ikal, tidak terlalu keriting dan tidak pula lurus kaku. Beliau diangkat Allah (menjkadi rasul) dalam usia empat puluh tahun. Beliau tingal di Mekkah (sebagai Rasul) sepuluh tahun dan di madinah sepuluh tahun. Beliau pulang ke Rahmatullah dalam usia enam puluh tahun. Pada kepala dan janggutnya tidak terdapat sampai dua puluh lembar rambut yang telah berwarna putih.”
(diriwayatkan oleh Abu Raja’ Qutaibah bin Sa’id, dari Malik bin Anas, dari Rabi’ah bin Abi ‘Abdurrahman yang bersumber dari *Anas bin Malik r.a)
*Anas bin Malik r.a adalah Abu Nadhr Anas bin Malik al Anshari al Bukhari al Khazraji. Ia tinggal bersama Rasulullah saw dan membantu Beliau selama sepuluh tahun.Dan ia adalah sahabat yang paling akhir meninggal dunia di Bashrah, yaitu pada tahun 71 H.
*Perawi menghilangkan bilangan satuannya dari puluhan (digenapkan). Karena kebanyakan riwayat menyatakan bahwa Rasulullah saw tinggal di Mekkah sebagai Rasul 13 tahun, dan wafat pada usia 63 tahun.
“Aku tak pernah orang yang berambut panjang terurus rapi, dengan mengenakan pakaian merah, yang lebih tampan dari Rasulullah saw. Rambutnya mencapai kedua bahunya.Kedua bahunya bidang. beliau bukanlah seorang yang berperawakan pendek dan tidak pula terlampau tinggi.”
(diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Waki’,dari Sufyan, Dari Abi Ishaq, yang bersumber dari al Bara bin ‘Azib r.a)
“Rasulullah saw. tidak berperawakan terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek. Beliau berperawakan sedang diantara kaumnya. Rambut tidak keriting bergulung dan tidak pula lurus kaku, melainkan ikal bergelombang. Badannya tidak gemuk, dagunya tidak lancip dan wajahnya agak bundar. Kulitnya putih kemerah-merahan. Matanya hitam pekat dan bulu matanya lentik. Bahunya bidang. beliau memiliki bulu lebat yang memanjang dari dada sampai ke pusat. Tapak tangan dan kakinya terasa tebal. Bila Beliau berjalan, berjalan dengan tegap seakan-akan Beliau turun ke tempat yang rendah. Bila Beliau berpaling maka seluruh badannya ikut berpaling. Diantara kedua bahunya terdapat Khatamun Nubuwah, yaitu tanda kenabian. Beliau memiliki hati yang paling pemurah diantara manusia. Ucapannya merupakan perkataan yang paling benar diantar semua orang. Perangainya amat lembut dan beliau paling ramah dalam pergaulan. Barang siapa melihatnya, pastilah akan menaruh hormat padanya. Dan barang siapa pernah berkumpul dengannya kemudian kenal dengannya tentulah ia akan mencintainya. Orang yang menceritakan sifatnya, pastilah akan berkata: “Belum pernah aku melihat sebelum dan sesudahnya orang yang seistimewa Beliau saw.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad bin ‘Ubadah ad Dlabi al Bashri, juga diriwayatkan oleh ‘Ali bin Hujr dan Abu Ja’far bin Muhammad bin al Husein, dari ‘Isa bin Yunus, dari ‘Umar bin ‘Abdullah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari salah seorang putera ‘Ali bin Abi Thalib k.w. yang bersumber dari ‘Ali bin Abi Thalib k.w.)
“Telah diperlihatkan kepadaku para Nabi. Adapun Nabi Musa a.s. bagaikan seorang laki-laki dari suku Syanu’ah*. Kulihat pula Nabi ‘Isa bin Maryan a.s. ternyata orang yang pernah kulihat mirip kepadanya adalah ‘Urwah bin Mas’ud*, Kulihat pula Nabi Ibranim a.s. ternyata orang yang mirip kepadanya adalah kawan kalian ini (yaitu Nabi saw sendiri). Kulihat jibril ternyata orang yang pernah kulihat mirip kepadanya adalah Dihyah*.”
(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’ad dari Laits bin Sa’id, dari Abi Zubair yang bersumber dari Jabir bin ‘Abdullah r.a.)
*Suku Syanu’ah terdapat di Yaman perawakan mereka sedang.
*‘Urwah bin Mas’ud as Tsaqafi adalah sahabat Rasulullah saw ia memeluk islam pada tahun 9 H.
*Dihyah adalah seorang sahabat Rasulullah saw yang mengikuti jihad fi sabilillah setelah perang Badar. Ia pun merupakan salah seorang pengikut Bai’atur Ridlwan yang bersejarah.
“Rasulullah mempunyai gigi seri yang renggang. Bila Beliau berbicara terlihat seperti ada cahaya yang memancar keluar antara kedua gigi serinya itu.”
(Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman, dari Ibrahim bin Mundzir al Hizami, dari ‘Abdul ‘Aziz bin Tsabit az Zuhri, dari Ismail bin Ibrahim, dari Musa bin ‘Uqbah, dari Kuraib yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas r.a.)
BENTUK KHATAMUN NUBUWAH.
“Aku pernah melihat khatam (kenabian)…. Ia terletak antara kedua bahu Rasulullah saw. Bentuknya seperti sepotong daging berwarna merah sebesar telur burung dara.”
(Diriwayatkan oleh Sa’id bin Ya’qub at Thalaqani dari Ayub bin Jabir, dari Simak bin Harb yang bersumber dari Jabir bin Samurah r.a.)
“Apabila ‘Ali k.w. menceritakan sifat Rasulullah saw. maka ia akan bercerita panjang lebar. Dan ia akan berkata: ‘Diantara kedua bahunya terdapat Khatam kenabian, yaitu khatam para Nabi.
(Diriwayatkan oleh Ahmad bin ‘Ubadah ad Dlabi ‘Ali bin Hujr dan lainnya, yang mereka terima dari Isa bin Yunus dari ‘Umar bin ‘Abdullah, dari ‘Ibrahim bin Muhammad yang bersumber dari salah seorang putera ‘Ali bin Abi Thalib k.w.)
Dalam suatu riwayat, Alba’bin Ahmar al Yasykuri mengadakan dialog dengan Abu Zaid ‘Amr bin Akhthab al Anshari r.a. sbb:
“Abu Zaid berkata: ‘Rasulullah saw bersabda kepadaku : ‘Wahai Abu Zaid mendekatlah kepadaku dan usaplah punggungku’.Maka punggungnya kuusap, dan terasa jari jemariku menyentuh Khatam. Aku (alba’ bin Ahmar al Yasykuri) bertanya kepada Abu Zaid: ‘Apakah Khatam itu?’
Abu Zaid menjawab: ‘kumpulan bulu-bulu*’.
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Abu ‘Ashim dari ‘Uzrah bin Tsabit yang bersumber dari Alba’bin Ahmar al Yasykuri).
*Ia mengatakan kumpulan bulu-bulu dikarenakan ia hanya dapat merasakan dengan rabaan tangannya saja, tidak melihat dengan mata kepala. Jadi yang dikatakan itu hanya berdasar rabaan belaka, yang teraba olehnya adalah bulu yang tumbuh di sekitar Khatam.
RAMBUT RASULULLAH SAW.
“Rambut Rasulullah saw mencapai pertengahan kedua telinganya.”
(Diriwayatkan oleh ‘Ali bin Hujr, dari Ismail bin Ibrahim, dari Humaid yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).
“Rasulullah saw. adalah seorang yang berbadan sedang, kedua bahunya bidang, sedangkan rambutnya menyentuh kedua daun telinganya.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, dari Abu Qathan, dari Syu’bah dari Abi Ishaq yang bersumber dari al Bara’ bin ‘Azib r.a.).
“Rambut Rasulullah saw. tidak terlampau keriting, tidak pula lurus kaku, rambutnya mencapai kedua daun telingannya.”
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Wahab bin Jarir bin Hazim, dari Hazim yang bersumber dari Qatadah).
“Sesungguhnya Rasulullah saw., dulunya menyisir rambutnya ke belakang, sedangkan orang-orang musyrik menyisir rambut mereka ke kiri dan ke kanan, dan Ahlul Kitab menyisir rambutnya ke belakang. Selama tidak ada perintah lain, Rasulullah saw. senang menyesuaikan diri dengan Ahlul Kitab. Kemudian,Rasulullah saw. menyisir rambutnya ke kiri dan ke kanan.”
(Diriwayatkan oleh Suwaid bin Nashr dari ‘Abdullah bin al Mubarak, dari Yunus bin Yazid, dari az Zuhri, dari ‘Ubaidilah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas r.a.).
CARA BERSISIR RASULULLAH SAW.
“Rasulullah saw. sering meminyaki rambutnya, menyisir janggutnya dan sering waktu menyisir rambutnya beliau menutupi (bahunya) dengan kain kerudung. Kain kerudung itu demikian berminyak seakan-akan kain tukang minyak.”
(Diriwayatkan oleh Yusuf bin’Isa, dari Rabi’ bin Shabih, dari Yazid bin aban ar Raqasyi, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).
Aban ar Raqasyi dikenal sebagai orang yang dinilai munkar periwayatannya. Hadist ini sangat berlawanan dengan kebanyakan hadist shahih, yang menerangkan tentang kebersihan dan penampilan terpuji dari Rasulullah saw. (Muhammad ‘Afif az Za’bi).
“Rasulullah saw. melarang bersisir kecuali sekali-kali.”
(Diriwayatkan oleh Muhammad Basyar, dari Yahya bin Sa’id,dari Hisyam bin Hasan, dari al Hasan Bashri, yang bersumber dari ‘Abdullah bin Mughaffal r.a.*)
*Yang dilarang ialah bersisir layaknya wanita pesolek.
*’Abdullah bin Mughaffal r.a. dalah sahabat Rasulullah saw. yang masyhur, ia adalah salah seorang peserta “Bai’tus Syajarah”, wafat pada tahun 60 H ada pula yang mengatakan tahun 57 H.
UBAN RASULULLAH SAW.
Qatadah bertanya kepada Anas bin Malik r.a.:
“Pernahkah Rasulullah saw. menyemir rambutnya yang telah beruban?”
Anas bin Malik menjawab:”Tidak sampai demikian. Hanya beberapa lembar uban saja di pelipisnya. Namun Abu Bakar r.a. pernah mewarnai (rambutnya yang memutih) dengan daun pacar dan katam.”
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Abu Daud, dari Hamman, yang bersumber dari Qatadah).
*Katam adalah sejenis tumbuh-tumbuhan yang biasa digunakan untuk memerahi rambut sedangkan warnanya merah tua.
Dalam suatu riwayat Ibnu ‘Abbas r.a. mengemukakan:
Abu Bakar r.a. berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh Anda telah beruban!”
Rasulullah saw. bersabda: “Surah Hud, Surah al Waqi’ah, Surah al Mursalat, Surah Amma Yatasa’alun dan Surah Idzasy-Syamsu kuwwirat, menyebabkan aku beruban.”
(Diriwayatkan oleh Abu Kuraib Muhammad bin al A’la, dari Mu’awiyah bin Hisyam, dari Syaiban, dari Ishaq, dari Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas r.a.).
“Wahai Rasulullah, kami melihat Anda sesungguhnya telah beruban!”
Rasulullah saw. bersabda: “Surah Hud dan beberapa surah sebangsanya (telah menyebabkan aku beruban.”
(Diriwayatkan oleh Sufyan bin Waki’, dari Muhammad bin Basyar, dari ’Ali bin Shalih, dari Abi Ishaq,yang bersumber dari Abi Juhaifah r.a.*).
*Abu Juhaifah adalah Wahab as Sawa’ bin ‘Amir bin Sha’sha’ah al Kufi. Ia adalah seorang sahabat yang masyhur. Menurut al Dzahabi, ia adalah rawi yang tsiqat (kuat hapalan dan terpercaya). Ia wafat pada tahun 74 H.
SEMIR RAMBUT RASULULLAH SAW.
Al Jahdzamah r.a., isteri Busyair bin al Khaskhashiyyah pernah bercerita:
“Aku melihat Rasulullah saw. keluar dari rumahnya mengibaskan rambut sehabis mandi. Dan di kepalanya terdapat bekas daun inai”, atau “bekas celupan”(rawi ragu).
(Diriwayatkan oleh Ibrahim bin Harun, dari Nadlr bin Zararah*, dari Abi Jinab*, dari Iyad bin Laqith, yang bersumber dari Jahdzamah r.a.).
*Nadlr bin Zararah dalah rawi yang dla’if dan termasuk Matruk.
*Ali Jinab dikenal sebagai rawi yang masyhur tapi ia dianggap dla’if karena sering menyamarkan rawi.
“Aku melihat rambut Rasulullah saw. dipacari merah.”
(Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman, dari ‘Amr bin ‘Ashim, dari Hammad bin Salamah, dari Humaid, yang bersumber dari Anas r.a.)
CELAK MATA RASULULLAH SAW.
Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas r.a. dikemukakan: Sesungguhnya Nabi saw. bersabda:
“Bercelaklah kalian dengan Itsmid, karena ia dapat mencerahkan pengliahatan dan menumbuhkan bulu mata. Sungguh Nabi saw. mempunyai tempat celak mata yang digunakannya untuk bercelak pada setiap malam. Tiga olesan di sini dan tiga olesan di sini.”
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Humaid ar Razi, dari Abu Daud at Thayalisi, dari Abbad bin Manshur, dari Ikrimah yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas r.a.).
Itsmid adalah batu celak biasanya berupa serbuk. Warnanya hitam atau biru. Serbuk itsmid dioleskan pada bulu mata atau disapukan di sekeliling mata.
*Yang dimaksud di sini adalah tiga olesan di mata sebelah kanan dan tiga olesan di mata sebelah kiri.
PAKAIAN RASULULLAH SAW.
“Pakaian yang paling disenangi Rasulullah saw. adalah Gamis.”
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Humaid ar Razi, dari al Fadhal bin Musa, diriwayatkan pula oleh Abu Tamilah dan Zaid bin Habab, ketiganya menerima dari ‘Abdul Mu’min bin Khalid, dari ‘Abdullah bin Buraidah, yang bersumber dari Ummu Salamah* r.a.)
*Ummu Salamah r.a. adalah Ummul Mu’minin Hindun binti Mughirah al Makhzumiyah.
“Sesungguhnya Nabi saw. keluar (dari rumahnya) dengan bertelekan kepada ‘Usamah bin Zaid. Beliau memakai pakaian Qithri yang diselempangkan di atas bahunya, kemudian beliau shalat bersama mereka.”
(Diriwayatkan oleh ‘Abd bin Humaid , dari Muhammad bin al Fardhal, dari Hammad bin Salamah, dari Habib bin as Syahid, dari al Hasan, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).
Qithri adalah sejenis kain yang terbuat dari katun yang kasar. Kain ini berasal dari Bahrain tepatnya dari Qathar.
Dalam sebuah riwayat Anas bin Malik r.a. mengemukakan:
“Pakaian yang paling disenangi Rasulullah saw. ialah kain Hibarah.”
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Mu’adz bin Hisyam dari ayahnya, dari Qatadah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)
Kain Hibarah ialah kain keluaran Yaman yang terbuat dari katun.
“Rasulullah saw. bersabda: “Hendaklah kalian berpakaian putih, untuk dipakai sewaktu hidup. Dan jadikanlah ia kain kafan kalian sewaktu kalian mati. Sebab kain putih itu sebaik- baik pakaian bagi kalian.”
(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, dari Basyar bin al Mufadhal, dari ‘Utsman Ibnu Khaitsam, dari Sa’id bin Jubeir, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas r.a.).
“Rasulullah saw. bersabda : “Pakailah pakaian putih, karena ia lebih suci dan lebih bagus. Juga kafankanlah ia pada orang yang meninggal diantara kalian.”
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Maimun bin Abi Syabib yang bersumber dari Samurah bin Jundub r.a.).
KHUF RASULULLAH SAW.
“Sesungguhnya raja *an-Najasyi menghadiahkan sepasang khuf hitampejat kepada Nabi saw. lalu Nabi saw. memakainya dan kemudian ia berwudlu dengan (hanya) menyapu keduanya (yakni tidak membasuh kaki).”
(Diriwayatkanoleh Hinad bin Siri, dari Waki’, dari Dalham bin Shalih, dari Hujair bin ‘Abdullah, dari putera Buraidah, yang bersumber dari Buraidah r.a.).
*Khuf ialah sejenis kaos kaki tapi terbuat dari kulit binatang. Khuf dibuat amat tipis dan tingginya menutupi mata kaki. Khuf biasanya hanya digunakan pada musim dingin untuk mencegah agar kulit kaki tidak pecah-pecah.Biasanya, orang memakai khuf ketika musafir di musim dingin dan masih memakai sepatu luar lagi. Sepatu ini namanya “jurmuq”. Para Ulama Indonesia sering menggunakan istilah Mujah untuk terjemahan khuf. Tapi kadang-kadang diterjemahkan juga dengan “sepatu khuf”.
*An najasyi menurut literature barat umumnya disebut Negust. Negust adalah gelar raja-raja di Abesina (Habsyi), sekarang dikenal “Ethiopia”.
SANDAL RASULULLAH SAW.
“Bagaimanakah sandal Rasulullah saw. itu?”
Anas menjawab : “Kedua belahnya mempunyai tali qibal*.”
(Diriwayatkn oleh Muhammad bin Basyar, dari Abu Daud at Thayalisi, dari Hamman yang nersumber dari Qatadah).
*Tali qibal adalah tali sandal yang bersatu pada bagian mukanya dan terjepit di antara dua jari kaki.
“Janganlah diantara kalian berjalan dengan sandal sebelah. Hendaklah memakai keduanya.”
(Diriwayatkan oleh Ishaq bin Musa al Anshari, dari Ma’an, dari Malik, dari Abiz Zinad, dari al A’raj yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.)
“Sesungguhnya Nabi saw. melarang seorang laki-laki makan dengan tangan kiri dan berjalan dengan sandal sebelah.”
(Diriwayatkan oleh Ishaq bin Musa, dari Ma’an, dari Malik, dari Abi Zubair, yang bersumber dari Jabir r.a.)
“Sesungguhnya Nabi saw. bersabda : “Bila salah seorang diantara kalian hendak memakai sandal hendaklah ia memulainya dari yang sebelah kanan. Dan bila ia melepasnya, maka hendaklah dimulai dari yang sebelah kiri. Hendaklah posisi kanan dijadikan yang pertama kali dipasangi sandaldan yang terakhir kali dilepas.”
(Diriwayatkan oleh Qutaibah, dari Malik, dan diriwayatkan pula oleh Ishaq bin Musa ,dari Ma’an, dari Malik, dari Abu Zinad, dari A’raj yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.)
CINCIN RASULULLAH SAW.
“Cincin Rasulullah saw. terbuat dari perak sedangkan permatanya dari Abessina (Habsyi)”.
(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id dan sebagainya, dari ‘Abdullah bin Wahab, dari Yunus, dari Ibnu Syihab, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)
“Tatkala Rasulullah saw. hendak menulis surat kepada penguasa bangsa ‘Ajam (asing), kepadanya diberitahukan: “Sungguh bangsa ‘Ajam tidak akan menerimanya, kecuali surat yang memakai cap. Maka Nabi saw. dibuatkan sebuah cincin (untuk cap surat). Terbayanglah dalam benakku putihnya cincin itu di tangan Rasulullah saw.”
(Diriwayatkan oleh Ishaq bin Manshur, dari Mu’adz bin Hisyam, dari ayahnya, dari Qatadah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).
*karena sebagaimana dikatakan bahwa cincin Nabi saw. dipakai sebagai pengecap surat, maka Nabi saw. tidak memakainya karena fungsinya pun lain. Atau mungkin saja pengertiannya bukan tidak dipakai, tapi jarang.
“Ukiran yang tertera di cincin Rasulullah saw adalah “Muhammad” satu baris ,”Rasul” satu baris, dan “Allah” satu baris”.
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Yahya, dari Muhammad bin ‘abdullah al Anshari, dari ayahnya, dari Tsumamah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).
“Sesungguhnya apabila Nabi saw. masuk ke jamban, maka ia melepaskan cincinnya.”
(Diriwayatkan oleh Ishaq bin Manshur, dari Sa’id bin ‘Amir, dandiriwayatkan pula oleh Hajjaj bin Minhal, dari Hamman, dari Ibnu Juraij, dari Zuhri yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).
CARA RASULULLAH SAW. BERCINCIN
“Sesungguhnya Nabi saw. memakai cincin di jari tangan kanannya.”
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Sahl bin ‘Asakir al Baghdadi, dan diriwayatkan pula oleh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman, keduanya menerima dari Yahya bin Hisan, dari Sulaiman bin Bilal, dari Syarik bin ‘Abdullah bin Abi Namir, dari Ibrahim bin ‘Abdullah bin Hunain, dari bapaknya, yang bersumber dari ‘Ali bin Abi Thalib k.w.).
PEDANG RASULULLAH SAW.
“Salut hulu pedang Rasulullah saw. terbuat dari perak.”
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Wahab bin Jarir, dari ayahnyadari Qatadah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).
“Samurah mengaku bahwa ia membuat pedangnya meniru pedang Rasulullah saw. Sedangkan pedang Rasulullah saw. itu berbentuk Hanafiyya.”
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin syuja’ al Baghdad, dari Abu ‘Ubaidah al Haddad, dari ‘Utsman bin Sa’id, yang bersumber dari Ibnu Sirin r.a.).
Pedang Hanafiyya adalah pedang yang di buat oleh suku Bani Hanifah. Pedang buatan Bani Hanafiah terkenal bagus dan halus pembuatannya.
BAJU BESI RASULULLAH SAW.
“Sesungguhnya Rasulullah saw. pada waktu ghazwah Uhud memakai dua baju besi. Sungguh beliau memakai keduanya secara rangkap.”
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Umar, dari Shufyan bin ‘Uyainah, dari Yazid bin Khushaifah, yang bersumber dari Saib bin Yazid)
TOPI BESI RASULULLAH SAW.
“Sewaktu Rasulullah saw. memasuki kota Mekkah (dihari Pembebasan), beliau memakai topi besi. Kemudian ditunjukkan orang kepadanya : ‘ini Ibnu Khathal* bersembunyi di dinding Ka’bah (disebabkan takut). Nabi saw. bersabda : “Bunuhlah dia!”
(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, dari Malik bin Anas, dari Ibnu Syihab, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).
Sebenarnya terjemahan topi besi tersebut kurang tepat sebab yang dimaksud topi besi di sini adalah rantai besi yang dijalin rapi, dibuat dengan ukuran kepala kemudian dapasang di dalam kopiah.
*Ibnu Khatal ialah seorang dari empat penjahat yang amat memusuhi Islam dan tidak mendapatkan pengampunan umum dari Rasulullah saw. Tiga lainnya ialah Huwairits bin Nuqaid, ‘Abdullah bin Abi Sarh dan Muqais bin Shababah. Namun, sebelum eksekusi, ‘Abdullah bin Abi Sarh masuk Islam. Dengan demikian ‘Abdullah bin Abi Sarh selamat dari hukuman.
SERBAN RASULULLAH SAW.
“Nabi saw. memasuki kota Mekkah pada waktu pembebasan kota Mekkah, beliau memakai serban hitam.”
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Hammad bin Salamah. Hadist inipun diriwayatkan pula oleh Mahmud bin Ghailan, dari Waki’, dari Hammad bin Salamah, dari Abi Zubair, yang bersumber dari Jabir r.a.).
“Sesungguhnya Nabi saw. berpidato da hadapan umat, beliau memakai serban hitam.”
(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dan diriwayatkan pula oleh Yusuf bin ‘Isa, keduanya menerima dari Waki’, dari Musawir al Waraq, dari Ja’far bin ‘Amr bin Huraits,yang bersumber dari bapaknya.)
SARUNG RASULULLAH SAW.
“’Aisyah r.a. memperlihatkan kepada kami pakaian yang telah kumal serta sarung yang kasar, seraya berkata :”Rasulullah saw. dicabut ruhnya sewaktu memakai kedua pakaian ini”.
(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, dari Ismail, dari Ayub, dari Humaid bin Hilal, dari Abi Burdah yang bersumber dari bapaknya).
“’Utsman bin Affan r.a. memakai sarung yang tingginya mencapai setengah betisnya. ‘Utsman berkata : “Demikianlah cara bersarung sahabatku (yakni Nabi saw.)”.
(Diriwayatkan oleh Suwaid bin Nashr, dari ‘Abdullah bin al Mubarak, dari *Musa bin ‘Ubaidah, dari Ayas bin Salamah bin al Akwa’ yang bersumber dari bapaknya).
*Musa bin ‘Ubaidah, menurut Imam Ahmad periwayatannya tidak syah.
“Rasulullah saw. memegang ototbetis kakiku dan betis kakinya, lalu bersabda:
“inilah tempat batas sarung. Jika kau tidak suka di sini, maka boleh juga diturunkan lagi. Jika kau tidak suka juga, maka tidak ada hak lagi bagi sarung menutup kedua mata kaki”.
(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, dari Abul Ahwash, dari Abi Ishaq, dari Muslim bin Nadzir, yang bersumber dari *Hudzaifah Ibnul Yaman r.a.).
Hudzaifah Ibnul Yaman r.a., ia adalah sahabat Rasulullah saw. Ia masuk Islam sebelum ghazwah Badar. Ia wafat tahun 36 H.
CARA BERJALAN RASULULLAH SAW.
“Tiada satupun kulihat lebih indah daripada Rasulullah saw., seolah-olah mentari beredar di wajahnya. Juga tiada seorangpun yang kulihat lebih cepat jalannya daripada Rasulullah saw., seolah-olah bumi ini dilipat-lipat untuknya. Sungguh, kami harus bersusah payahmelakukan hal itu, sedangkan Rasulullah saw. tidak memperdulikan.”
(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, dari *Ibnu Luhai’fah, dari Abi Yunus, yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.).
*Ibnu Luhai’ah adalah ‘Abdullah al Hadhrami, seorang faqih yang Masyhur dan qadli di Mesir, namun demikian ad Dzahabi mendlaifkannya, tetapi hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Wahab, Ibnu Mubarak dan Abi ‘Abdurrahman al Muqri lebih baik. Ibnu Luhai’fah meninggal dunia pada tahun 174 H.
“Bila Nabi saw. berjalan, maka ia berjalan dengan merunduk seakan-akan jalanan menurun.”
(Diriwayatkan oleh Shufyan bin Waki’, dari ayahnya, dari al Masudi, dari ‘Utsman bin Muslim bin Hurmuz, dari Nafi’ bin Jubair bin Muth’im, yang bersumber dari ‘Ali bin Abi Thalib k.w.).
KAIN PENYEKA RASULULLAH SAW.
“Rasulullah saw. sering menyeka (minyak di kepalanya), seakan-akan kain penyeka kepalanya seperti kain penyeka tukang minyak.”
(Diriwayatkan oleh Yusuf bin ‘Isa, dari Waki’, dari Rabi’ bin Shabih, dari *Yazid bin Aban ar Raqasi, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).
*Yazid bin Aban ar Raqasy dikenal sebagai orang yang dinilai munkar periwatannya. Hadits ini sangat berlawanan dengan hadist Shahih, yang menerangkan tentang kebersihan dan penampilan terpuji dari Rasulullah saw. (Muhammad ‘Afif az Za’bi).
SIKAP DUDUK RASULULLAH SAW.
“Ia (Qabilah) melihat Rasulullah saw. di masjid sedang duduk *qurfasha.”
Qabilah berkata :”Manakala aku melihat Rasulullah saw. sedang duduk dengan khusyu’, maka akupun dibawa oleh perasaan takjub karena wibawanya.”
(Diriwayatkan oleh’Abd bin Humaid, dari ‘Affan bin Muslim, dari ‘Abdullah bin Hasan, dari kedua orang anaknya, yang bersumber dari Qabilah binti Makhramah).
*Duduk Qurfasha yakni duduk bertumpu pada pinggul, kedua paha merapat ke perut dan jangan memegang betis.
“Sesungguhnya ia melihat Rasulullah saw. berbaring telentang di masjid, dan salah satu kakinya ditumpangkan pada kaki lainnya.”
(Diriwayatkan oleh Sa’id bin ‘Abdurrahman al Makhzumi dan lainnya, mereka menerima dari Sufyan, dari Zuhri, dari ‘Abbad bin Tamim yang bersumber dari pamannya*).
*Ia adalah ‘Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim bin Muhammad, ia adalah seorang sahabat dan dikatakan bahwa ia yang membunuh Musailamah al Kadzdzab (Nabi palsu).
“Apabila Rasulullah saw. duduk di *masjid, maka ia duduk secara *ihtiba dengan kedua tangannya.”
(Diriwayatkan oleh Salamah bin Syabib, dari ‘Abdullah bin Ibrahim al Madini, dari Ishaq bin Muhammad al Anshari, dari Rabih bin ‘Abdurrahman bin Abi Sa’id, dari bapaknya yang bersumber dari kakeknya Abi Sa’id al Khudri r.a.).
*Ada yang mengatakan di dalam majlis.
*Ihtaba adalah duduk Qurfasha sambil bersandar.
TEMPAT BERTELEKAN RASULULLAH
saw.
“Aku pernah melihat Rasulullah saw. duduk bertelekan pada sebuah bantal di sebelah kirinya.”
(Diriwayatkan oleh ‘Abbas bin Muhammad ad Dauri al Baghdadi, dari Ishaq bin Manshur, dari Israil, dari simak bin Harb, yang bersumber dari Jabir bin Samurah r.a.).
“Rasulullah saw. bersabda : “Aku tak mau makan sambil bertelekan, aku tak mau makan sambil bertelekan.”
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari ‘Ali bin al ‘Aqmar, yang bersumber dari Abu Juhaifah r.a.).
“Aku melihat Rasulullah saw. duduk bertelekan pada sebuah bantal.”
(Diriwayatkan oleh Yusuf bin ‘Isa, dari Waki’, dari Ismail, dari Simak bin Harb, yang bersumber dari Jabir bin Samurah r.a.).
CARA BERTELEKAN RASULULLAH SAW.
“Aku masuk ke rumah rasulullah saw. tatkala beliau sedang sakit yang membawa ajalnya. Di kepalanya ada balutan kain kuning. Kepadanya kuucapkan salam, kemudian beliau bersabda : “Wahai Fadlal, apa kabarmu?”
Aku menjawab : “Baik wahai Rasulullah !”
Rasulullah bersabda : “Kuatkan balutan yang ada di kepalaku ini !”
Fadlal meneruskan ceritanya :”Maka kulakukan perintah Rasulullah saw. itu. Kemudian beliau duduk, lalu meletakkan tangannya di atas bahuku, kemudian beliau berdiri lalu masuk ke masjid.”
Dan kisah selanjutnya terdapat dalam hadist perihal wafatnya Rasulullah saw.
(Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman, dari Muhammad bin al Mubarak, dari *‘Atha’bin Muslim al Khaffaf al Halabi,dari Ja’far bin Furqan, dari ‘Atha’ bin Abi Rabbah,yang bersumber dari *al Fadlal bin ‘Abbas r.a.).
*AL fadlal bin ‘Abbas r.a. adalah sahabat yang masyhur, ia adalah anak sulung ‘Abbas r.a. (paman Rasulullah saw.).
*’Atha’ bin Muslim al Khaffaf al Halabi, di dla’ifkan oleh Abu Daud, dan menurut Abu Hatim tidak boleh dipakai hujjah periwayatannya.
“Sesungguhnya Nabi saw. sedang dalam keadaan sakit. Beliau keluar (dari rumahnya) dengan bertelekan kepada Usamah bin Zaid. Waktu itu beliau memakai kain Qithri (buatan Qatar) yang diselempangkan. Kemudian Beliau shalat bersama mereka (para sahabat).”
(Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman, dari ‘Amr ‘Ashim, dari Hammad bin Salamah, dari Humaid, yang bersumber dari Anas r.a.).
CARA MAKAN RASULULLAH SAW.
“Sesungguhnya Nabi saw. menjilati jari jemarinya (sehabis makan) tiga kali.”
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari Sa’id bin Ibrahim, dari *salah seorang anak Ka’ab bin Malik, yang bersumber dari bapaknya.).
*Nama Ibnul Ka’ab bin Malik (putera Ka’ab bin Malik r.a.) di sini tidak dijelaskan, sedangkan Ka’ab mempunyai anak dua orang, yaitu ‘Abdullah dan ‘Abdurrahman. Namun demikian keduanya punya tsiqat (dapat diterima periwayatannya), dan keduanya merupakan tabi’in besar.
“Bila Nabi saw. selesai makan, beliau menjilati jari jemarinya yang tiga*.”
(Diriwayatkan oleh al Hasan bin ‘Ali al Khilali, dari ‘Affan, dari Hammad bin Salamah, dari Tsabit, yang bersumber dari Anas r.a.).
*Yang dimaksud jari yang tiga ,yakni: jari tengah, jari telunjuk dan ibu jari.
JENIS ROTI YANG DIMAKAN OLEH RASULULLAH SAW.
“Keluarga Nabi saw. tidak pernah makan roti sya’ir* sampai kenyang dua hari berturut-turut hingga Rasulullah saw. wafat.”
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin al Matsani, dan diriwayatkan pula oleh Muhammad bin Basyar, keduanya menerima dari Muhammad bin Ja’far, dari Syu’bah, dari Ishaq, dari ‘Abdurrahman bin Yazid, dari al Aswad bin Yazid*, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).
*Sya’ir, khintah dan bur, semuanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indinesia dengan “gandum” sedangkan sya’ir merupakan gandum yang paling rendah mutunya. Kadang kala ia dijadikan makanan ternak, namun dapat pula dihaluskan untuk makanan manusia. Roti yang terbuat dari sya’ir kurang baik mutunyasya’ir lebih dekat kepada jelai daripada gandum.
*’Abdurrahman bin Yazid dan al Aswad bin Yazid bersaudara, keduanya rawi yang tsiqat.
“Rasulullah saw. tidak pernah makan di atas meja dan tidak pernah makan roti gandum yang halus, hingga wafatnya.”
(Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman, dari’Abdullah bin ‘Amr –Abu Ma’mar-, dari ‘Abdul Warits, dari Sa’id bin Abi ‘Arubah, dari Qatadah, yang bersumber dari Anas r.a.).
LAUK PAUK YANG DIMAKAN RASULULLAH SAW.
“Sesungguhnya Rasulullah bersabda: “Saus yang paling enak adalah cuka.”
‘Abdullah bin ‘Abdurrahman berkata :”Saus yang paling enak adalah cuka.”
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Shal bin ‘Askar dan ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman, keduanya menerima dari Yahya bin Hasan, dari Sulaiman bin Hilal, Hisyam bin ‘Urwah, dari bapaknya yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).
“Rasulullah saw. bersabda :”Makanlah minyak zaitun dan berminyaklah dengannya. Sesungguhnya ia berasal dari pohon yang diberkahi.”
(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, daari Abu Ahmad az Zubair, dan diriwayatkan pula oleh Abu Nu’aim, keduanya menerima dari Sufyan, dari ‘ Abdullah bin ‘Isa, dari seorang laki-laki ahli syam yang bernama Atha’, yang bersumber dari Abi Usaid r.a.*).
*Abi Usaid adalah ‘Abdullah bin Tsabit az Zarqi.
“Nabi saw. menggemari buah labu. maka (pada suatu hari) beliau diberi makanan itu, atau diundang untuk makan makanan itu (labu). Aku pun mengikutinya, maka makanan itu (labu) kuletakkan dihadapannya, karena aku tahu beliau menggemarinya.
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Muhammad bin Ja’far, dan diriwayatkan pula oleh ‘Abdurrahman bin Mahdi, keduanya menerima dari Syu’bah, dari Qatadahyangt bersumber dari Anas bin Malik r.a.).
“Nabi saw. menyenangi kue-kue manis (manisan) dan madu.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Ibrahim ad Daruqi, juga diriwayatkan oleh Salamah bin Syabib dan diriwayatkan pula oleh Mahmud bin Ghailan, mereka menerimanya dari Abu Usamah, dari Hisyam bin ‘Urwahyang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).
“Nabi saw. diberi makan daging, maka diambilakn baginya bagian dzir’an*. Bagian dzir’an kesukaannya. Maka Rasulullah saw. mencicipi sebagian daripadanya.”
(Diriwayatkan oleh Washil bin ‘Abdul A’la, dari Muhammad bin Fudlail, dari Abi Hayyan at Taimi, dari Abi Zar’ah, yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.).
*Dzir’an adalah bagian tubuh binatang dari dengkul sampai bagian kaki.
“Daging yang paling baik adalah punggung.”
(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Abu Ahmad, dari Mis’ar, dari Syaikhan, dari Fahm,* yang bersumber dari ‘Abdullah bin Ja’far r.a.).
*Namanya adalah Muhammad bin ‘Abdullah, disebut pula Muhammad bin ‘Abdurrahman, juga disebut Abu Hay.
WUDLU RASULULLAH SAW.
“Rasulullah saw. keluar dari jamban, maka dihidangkan kepadanya makanan. Kemudian para sahabat berkata : ‘Apakah kami perlu menyediakan bagi Anda air wudlu?”
Beliau menjawab :”Sesungguhnya aku disuruh berwudlu apabila aku akan melakukan shalat.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, dari Isma’il bin Ibrahim, dari Ayyub, dari Ibnu Mulaikah yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas r.a.).
“Kubaca dalam Taurat bahwa berkah makanan itu karena berwudlu sebelum makan dan berwudlu sesudahnya”. Hal tersebut kukatakan kepada Nabi saw., dan kukabarkan apa yang pernah kubaca dalam Taurat itu, maka Rasulullahsaw. bersabda :”Berkah makanan itu disebabkan berwudlu sebelum makan serta sesudahnya.”
(Diriwayatkan oleh Yahya bin Musa, dari ‘Abdullah bin Numair, dari Qeis bin Rabi’*. Hadist inipun diriwayatkan pula oleh Qutaibah, dari ‘Abdul Karim al Jurjani, kedua riwayat itu bersumber dari Qeis bin Rabi’, dari Abi Hisyam Adahzadan yang bersumber dari Salman r.a.).
*Qeis bin Rabi’ menurut Ibnu Ma’in periwayatannya dla’if namun diterima oleh Ibnu Majah dan Abu Daud.
DO’A RASULULLAH SAW. SEBELUM DAN SESUDAH MAKAN.
“Pada suatu hari, kami berada di rumah Rasulullah saw., maka Beliau menyuguhkan suatu makanan. Aku tidak mengetahui makanan yang paling besar berkahnya pada saat kami mulai makan dan tidak sedikit berkahnya di akhir kami makan.”
Abu Ayub bertanya : “Wahai Rasulullah, bagaimanakah caranya hal ini bisa terjadi?”
Rasulullah saw. bersabda :”Sesungguhnya kami membaca nama Allah waktu akan makan, kemudian duduklah seseorang yang makan tanpa menyebut nama Allah, maka makannya disertai syetan.”
(Diriwayatkan oleh Qutaibah Dari Ibnu Luhai’ah, dari Yazid bin Abi Habib, dari Rasyad bin Jandal al Yafi’I, dari Hubeib bin Aus, yang bersumber dari Abu Ayub al Anshari r.a.).
“Rasulullah saw. bersabda :”bila salah seorang dari kalian makan, tapi lupa menyebut nama Allah atas makanan itu, maka hendaklah ia membaca :”Bismillahi awwalahu wa akhirahu.” (Dengan nama Allah pada awal dan akhirnya).
(Diriwayatkan oleh Yahya bin Musa, dari abu Daud, dari Hisyam ad Distiwai, dari Budail al ‘Aqili, dari ‘Abdullah bin ‘Ubaid bin ‘Umair, dari Ummu Kultsum*, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).
*Ummu Kultsum binti ‘Uqbah bin Abi Mu’ith al Umawiyah, adalah salah seorang sahabatRasulullah saw. dan ia merupakan saudara seibu ‘Utsman bin Affan r.a.
“Apabila Rasulullah saw. selesai makan, maka Beliau membaca : “Alhamdulillahil ladzi ath’amana wa saqana wa ja’alana muslimin.”(Segala puji bagi Allah Yang memberi makan kepada kami, memberi minum kepada kami dan menjadikan kami orang-orang islam).
(Diriwayatkan oleh Mahmud Ghailan, dari Abu Ahmad az Zubairi, dari Sufyan as Tsauri, dari Abu Hasyim, dari Ibnu Isma’il bin Riyah, dari bapaknya (Riyah bin ‘Ubaid), yang bersumber dari Abu Sa’id al khudri r.a.).
“Adapun Rasulullah saw., bila hidangan makan telah diangkat dari hadapannya, maka beliau membaca :”Alhamdulillahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, ghaira muwadda’iw wa la mustaghnan ‘anhu Rabbana.” (Segala puji bagi Allah, puji yang banyak tiada terhingga. Puji yang baik lagi berkah padanya.Puji yang tidak pernah berhenti. Dan puji tidak akan mampu lisan menuturkannya, ya Allah Rabbal ‘Alamin).
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Yahya bin Sa’id, dari Tsaur bin Yazid, dari Khalid bin Ma’danyang bersumber dari Abu Umamah r.a.).
TEMPAT MINUM RASULULLAH SAW.
“Anas bin Malik r.a. memperlihatkan kepada kami tempat minuman yang terbuat dari kayu. Tempat minuman itu tebal dan dililit dengan besi”. kemudian anas r.a. menerangkan : “Wahai Tsabit! Inilah tempat minum Rasulullah saw.”
(Diriwayatkan oleh al Husain bin al Aswad al Baghdadi, dari ‘Amr bin Muhammad, dari ‘Isa bin Thuhman, yang bersumber dari Tsabit r.a.).
“Sungguh ke dalam cangkir ini telah kutuangkan berbagai minuman untuk Rasulullah saw., baik itu air, nabidz*, madu ataupun susu.”
(Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman, dari Hammad bin Salamah, dari Humaid dan Tsabit, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)>
*Nabidz adalah air kurma, yakni beberapa biji kurma dimasukkan ke dalam air kemudian dibiarkan (semalam) sampai airnya terasa manis.
BUAH-BUAHAN YANG DIMAKAN RASULULLAH SAW.
“Nabi saw. memakan qitsa* dengan kurma (yang baru masak).”
(Diriwayatkan oleh Isma’il bin Musa al Farazi, dari Ibrahim bin Sa’id, dari ayahnya yang bersumber dari ‘Abdullah bin Ja’far r.a.).
*Qitsa adalah sejenis buah-buahan yang mirip mentimun tetapi ukurannya lebih besar (Hirbis).
“Sesungguhnya Nabi saw. memakan semangka dengan kurma (yang baru masak).
(Diriwayatkan oleh ‘Ubadah bin ‘Abdullah al Khaza’i al Bashri, dari Mu’awiyah bin Hisyam, dari Sufyan, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari bapaknya, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).
MINUMAN RASULULLAH SAW.
“Minuman yang paling disukai Rasulullah saw. adalah minuman manis yang dingin.”
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Umar, dari Sufyan, dari Ma’mar, dari Zuhairi, dari ‘Urwah, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).
CARA MINUM RASULULLAH SAW,
“Sesungguhnya Rasulullah saw. minum air zamzam sambil berdiri.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, dari Husyaim, dari ‘Ashim al Ahwal dan sebagainya, dari Sya’bi, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas r.a.).
“Sesungguhnya Rasulullah saw. menarik nafas tiga kali pada bejana bila Beliau minum. Beliau bersabda :”Cara seperti ini lebih menyenangkan dan menimbulkan kepuasan.”
(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, dan diriwayatkan pula oleh Yusuf bin Hammad, keduanya menerima dari ‘Abdul Warits bin Sa’id, dari Abi ‘Ashim, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).
MINYAK WANGI RASULULLAH SAW.
“Rasulullah saw. bersabda :”Wewangian laki-laki ialah yang harum baunya dan tersembunyi warnanya. Sedangkan wewangian wanita ialah yang cemerlang warnanya dan tersembunyi baunya.”
(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Abu Daud al Hafariyyi, dari Sufyan, dari al Jurairi, dari Abi Nadhrah, dari seseorang*, yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.).
*Dalam riwayat lain yang juga bersumber dari Abu Hurairah r.a., sanadnya adalah: Diriwayatkan oleh ‘Ali bin Hujr, dari Isma’il bin Ibrahim, dari al Jurairi, dari Abi Nadhrah, dari at Thawafi, yang bersumber dari Abu hurairah r.a.
CARA BICARA RASULULLAH SAW.
“Rasulullah saw. tidak berbicara cepat sebagaimana kalian. Tetapi beliau berbicara dengan kata-kata yang jelas dan tegas. Orang yang duduk bedrsamanya akan dapat menghafal (kata-katanya).
(Diriwayatkan oleh Humaid bin Mas’adah al Bashriyyi, dari Humaid al Aswad, dari Usamah bin Zaid, dari Zuhri, dari ‘Urwah, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).
“Rasulullahsaw. suka mengulang kata-kata yang diucapkannya sebanyak tiga kali agar dapat dipahami.”
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Yahya, dari Abu Qutaibah –Muslim bin Qutaibah-. dari ‘Abdullah bin al Mutsani, dari Tsumamah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).
cara rasulullah saw. tertawa.
“Betis Rasulullah saw. kecil (tidak gemuk). Beliau tidak tertawa kecuali tersenyum. Bila aku memandang kepadanya, aku berkata (dalam hati); “Betapa hitam pelupuk matanya, padahal tidak dihitami.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, dari ‘Abbad bin al ‘Awwam, dari al Hajjaj –Ibnu Arthah-*, dari Simak bin Harb, yang bersumber dari Jabir bin Samurah r.a.).
*Al Hajjaj (Ibnu Arthah) didla’ifkan oleh jamaah.
“Tiadalah tertawa Rasulullah saw. kecuali tersenyum.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Khalid al Khilal, dari Yahya bin Ishaq, as Sailihani, dari Laits bin Sa’id, dari Yazid bin Abi Habib, yang bersumber dari ‘Abdullah bin al Harits r.a).
KELAKAR RASULULLAH SAW.
“Sesungguhnya Rasulullah saw. bergaul akrab dengan kami, sehingga beliau bersabda kepada adikku* yang masih kecil :”Wahai Abu ‘Umair (bapak ‘Umair), apa yang dapat dikerjakan burung sekecil itu*?”
(Diriwayatkan oleh Hannad bin asSariyyi, dari Waki’, dari Syu’bah, dari Abit Tayyah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).
*Ia adalah saudara seibu Anas bin Malik r.a., namanya adalah Ibnu Abi Thalhah Zaid bin Sahl al Anshari, sedangkan ibu bagi keduanya adalah Ummu Sulaim binti Malhan. Ibnu Abi Thalhah (Abu ‘Umair) wafat sewaktu masih kecil yakni dimasa Nabi saw. masih hidup.
*Imam Tirmidzi berkata :” Maksud Hadist ini, Rasulullah saw. bergurau. Di dalam pergurauannya, beliau memberi gelar kepad seorang anak kecil dengan sebutan bapak:”Wahai Abu ‘Umair (Wahai bapak ‘Umair). Pada hadist inipun terdapat suatu hukum, bahwa memberi mainan kepada anak-anak berupa burung tidak apa-apa. Nabi saw. bersabda:”Wahai Abu ‘Umair apa yang dapat dikerjakan oleh burung sekecil itu ?”
Maksudnya adalah : Anak kecil itu mempunyai burung kecil sebagai mainannya. Kemudian burung itu mati , maka anak tersebut berduka cita karenanya. Untuk mengobati dukanya Nabi saw bersenda gurau kepadanya.
“Mereka (para sahabat) bertanya: “Wahai Rasulullah! apakah Anda suka bergurau kepada kami?”
Beliau bersabda :”Benar! Hanya saja apa yang kukatakan, tidak lain hanyalah kebenaran.”
(Diriwayatkan oleh ‘Abbas bin Muhammad ad Duri, dari ‘Ali bin al Hassan bin Syaqiq, dari ‘Abdullah bin al Mubarak, dari Usamah Ibnu Zaid, dari Sa’id al Maqbari, yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.).
syi’ir yang dibaca rasulullah saw.
‘Aisyah r.a. bertanya :”Apakah Rasulullah saw. pernah membaca syi’ir?”
Ia menjawab :”Beliau pernah membaca Syi’ir Ibnu Rawahah r.a.dan juga pernah membaca syi’ir yang berbunyi:
“Berita-berita akan datang kepadamu
Dibawa oleh orang yang tak kau beri bekal*.”
(Diriwayatkan oleh ‘Ali bin Hujr, dari Syarik, dari al Miqdambin Syuraih, dari bapaknya, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).
*Permulaan baitnya berbunyi:
Hari demi hari akan menyingkap kejelasan bagimu.
Walau kau sebelumnya tidak tahu.
Rasulullah saw. bersabda :”Syi’ir yang terbaik (paling benar) yang pernah dibacakan seorang penya’ir adalah Syi’ir Labid* (bin Abi Rabi’ah al Amiri), yang berbunyi:
“Ingat! Segala sesuatu selain Allah pasti binasa.”
Dan hamper saja Ummayah bin Abis Shalt* menjadi muslim (karena syi’ir-syi’irnya).”
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan as Tsauri, dari ‘Abdul Malik bin ‘Umair, dari Abu Salamah, yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.).
*Pada masa jahiliyah, Labid adalah seorang yang mulia demikian pula setelah ia masuk Islam. Ia merupakan penyair Arab yang terkenal saat itu. Namun setelah turun ayat-ayat Al- Qur’an ia berhenti membuat syi’ir dan ia hanya mencukupkan dengan al-Qur’an saja. Ia wafat pada tahun 41 H pada usia 140 tahun.
*Tentang Ummayah bin Abis Shalt, Rasulullah pernah bersabda: “Syi’irnya beriman, namun hatinya tetap kafir.”
“Aku pernah berada di belakang Nabi saw. (dibonceng), kepadanya kubacakan seratus qafiah (sajak) Syi’ir gubahanUmmayah bin Abis Shalt as Tsaqaf. Manakala kubacakan kepadanya sebait syi’ir, Nabi saw. bersabda :”Tambahkan lagi!”
Sehingga kepadanya kubacakan seratus bait syi’ir, kemudian Nabi saw. bersabda :”Sesungguhnya Ummayah itu ha,pir saja menjadi muslim.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, dari Marwan bin Mu’awiyah*, dari ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman at Thaifi, dari ‘Amr bin Syarid, yang bersumber dari ayahnya).
*Marwan bin Mu’awiyah bin Harits al kufi, ia dinyatakan tsiqat oleh jamaah. ia wafat tahun 193 H.
“Rasulullah saw. meletakkan mimbar untuk Hasan bin Tsabit di dalam masjid agar ia bersyi’ir yang membesarkan hati Rasulullah saaw., atau (perawi ragu) agar ia mempertahankan Rasulullah saw.
Rasulullah saw. bersabda :”Sesungguhnya Allah swt. menolong Hasan lewat Jibril tatkala ia mempertahankan (atau membesarkan hati) Rasulullah saw. (dengan syi’irnya).”
(Diriwayatkan oleh Isma’il bin Musa al Fazari, dan diriwayatkan oleh ‘Ali bin Hujr (semakna), keduanya menerima dari ‘Abdurrahman bin Zinad, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari bapaknya (‘Urwah), yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).
CARA TIDUR RASULULLAH SAW.
“Sesungguhnya Nabi saw. bila berbaring di tempat tidurnya, beliau letakkan telapak tangannya yang kanan di bawah pipinya yang kanan, seraya berdo’a: ”Rabbi qini ‘adzabaka yauma tab’atsu ‘ibadaka.” (Ya Rabbi, peliharalah aku dari azab-Mu pada hari Kau bangkitkan seluruh hamba-Mu).
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin al Matsani, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Israil, dari Abi Ishaq, dari ‘Abdullah bin Yazid, yang bersumber dari al Bara bin ‘Azib r.a.).
“Bila Rasulullah saw. berbaring di tempat tidurnya, maka beliau berdo’a : “Allahumma bismika amutu wa ahya’. (Ya Allah, dengan nama-Mu aku mati dan aku hidup).
Dan bila Beliau bangun, maka Beliau membaca :”Alhamdulillahilladzi ahyana ba’dama amatana wailaihin nusyur.” (Segala puji bagi Allah, yang telah menghidupkan aku kembali setelah mematikan daku dan kepada-Nya tempat kembali).
(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari ‘Abdurrazaq, dari Sufyan, dari ‘Abdul Malik bin ‘Umair, dari Ruba’I bin Hirasyi, yang bersumber dari Hudzaifah r.a.).
“Sesungguhnya bila Nabi saw. istirahat dalam musafirnya di malam hari, Beliau berbaring ke sebelah kanan. Dan bila Beliau istirahat pada musafirnya menjelang subuh, maka Beliau tegakkan lengannya dan diletakkannya kepalanya diatas tangannya.”
(Diriwayatkan oleh alHusein bin Muhammad al Hariri, dari Sulaiman bin Harb, dari Hammad bin Salamah, dari Humaid, dari Bakr bin ‘Abdullah al Mazini, dari ‘Abdullah bin Rabbah, yang bersumber dari Abi Qatadah r.a.).
IBADAH RASULULLAH SAW.
“Rasulullah berdiri (shalat) sampai bengkak kedua kakinya. Kepadanya ditanyakan: “Mengapa Anda membebani diri dengan hal yang demikian? Bukankah Allha swt. telah mengampuni Anda dari segala dosa Anda, baik yang terdahulu maupun yang akan datang?” Rasulullah saw. bersabda :”Tidak patutkah saya menjadi hamba Allahyang bersyukur?”
(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, juga oleh Basyar bin Mu’adz, dari Abu ‘Awanah, dari Ziyad bin ‘Alaqah, yang bersumber dari al Mughirah bin Syu’bah r.a.).
“Nabi saw. shalat malam hari tiga belas rakaat.”
(Diriwayatkan oleh Abu Kuraib- Muhammad bin al A’la-, dari Waki’, dari Syu’bah, dari Abi Jamrah,yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas r.a.).
“Sesungguhnya apabila Nabi saw. tidak sempat shalat malam hari karena tertidur atau berat rasa kantuknya, maka beliau lakukan shalat dua belas rakaat di siang hari.”
(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, dari Abu ‘Awanah, dari Qatadah, dari Zurarah bin Aufa, dari Sa’id bin Hisyam, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).
“Sesungguhnya Rasulullah saw. melaksanakan shalat di malam hari sebelas raka’at. Beliau lakukan shalat witir (ganjil) satu raka’at. Apabila beliau selesai melakukan shalat itu, beliau berbaring dengan lambung kanannya di sebelah bawah.”
(Diriwayatkan oleh Ishaq bin Musa, dari Ma’an, dari Malik, dari Ibnu Syibab, dari Urwah, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).
“Sesungguhnya Nabi saw. tidak wafat, sampai kebanyakan shalatnya (shalat sunnat) dilaksanakan dalam keadaan duduk.”
(Diriwayatkan oleh al Hasan bin Muhammad azZa’farani, dari al Hajjaj bin Muhammad, dari Ibnu Juraih, dari ‘Utsman bin Abi Sulaiman, dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).
“Aku pelihara amalan-amalan Rasulullah saw. berupa shalat delapan raka’at. dua raka’at sebelum shalat Dhuhur, dua raka’at sesudahnya, dua raka’at sesudah shalat Magrib dan dua raka’at sesudah shalat Isya’.”
Selanjutnya Ibnu ‘Umar berkata :”Hafshah* menceritakan kepadaku perihal dua raka’at shalat fajar. Tapi aku tak pernah* melihatnya dilakukan Rasulullah saw.”
(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, dari Marwan bin Mu’awiyah al Farazi, dari Ja’far bin Burqaq, dari Maimun bin Mihran, yang bersumber dari Ibnu ‘Umar r.a).
*Hafshah (isteri Rasulullah saw.) dan Ibnu ‘Umar adalah kakak beradik, keduanya adalah putera ‘Umar bin Khathab r.a.
*Disebabkan Rasulullah saw. melakukan shalat fajar di rumahnya, maka Ibnu ‘Umar tidak pernah melihatnya.
12122121SHALAT DHUHA RASULULLAH SAW.
“Aku mendengar Mu’adzah (binti ‘Abdullah al- ‘Adawiyah) sebagai berikut:
“Aku bertanya kepada ‘Aisyah r.a. : “Apakah Rasulullah saw. nengerjakan shalat pada waktu dhuha?”
‘Aisyah r.a. menjawab : “Benar, beliau melakukan empat raka’at. Dan terkadang beliau menambah lagi sebanyak yang dikehendaki Allah Azza wa Jalla.”
(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Abu Daud at Thayalisi, dari Syu’bah, dari Yazid ar Risyk, yang bersumber dari Mu’adzah r.a.).
“Sesungguhnya Nabi saw. melakukan shalat empat raka’at sesudah tergelincir matahari, sebelum shalat Dhuhur.”
Beliau bersabda:”Sesungguhnya waktu itu merupakan saat pintu-pintu langit terbuka. Maka aku menyukai amal salehku diangkat saat itu.”
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin al Mutsana, dari Abu Daud, dari Muhammad bin Muslim bin Abil Wadldlah, dari ‘Abdul Karim al Jazari, dari Mujahid, yang bersumber dari ‘Abdullah bin as Saib r.a.).
shalat sunnat rasulullah saw. di rumah.
“Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang shalat di rumah dan shalat di masjid.”
Beliau bersabda : “Sungguh, kau melihat sendiri, alangkah dekatnya rumahku dengan masjid. Sungguh aku lebih suka shalat di rumah daripada shlat di masjid, kecuali shalat itu shalat fardhu.”
(Diriwayatkan oleh ‘Abbas al Anbari, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Mu’awiyahbin Shalih, dari al A’la bin Harits, dari Haram bin Mu’awiyah, yang bersumber dari pamannya ‘Abdullah bin Sa’ad r.a.*).
*’Abdullah bin Sa’ad al Anshari, ia merupakan salah seorang sahabat Rasulullah saw.
SHAUM SUNNAT RASULULLAH SAW.
“Aku melihat Rasulullah saw. shaum dua bulan berturut-turut kecuali pada bulan Sya’ban dan Ramadhan.”
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari Manshur, dari Salim bin Abil Ja’di, dari Abi Salamah, yang bersumber dari Ummu Salamah r.a.).
“Rasulullah saw. shaum pada awal bulan selama tiga hari pada setiap bulan, dan jarang sekali beliau tidak berbuka pada hari Jum’at.”
(Diriwayatkan oleh al Qasim bin Dinar al Kufi, dari ‘Ubaid bin Musa, dan diriwayatkan pula oleh Thalaq bin Ghanam, dari Syaibani, dari ‘Ashim, dari Zirin bin Hubaisy, yang bersumber dari ‘Abdullah r.a.).
“Nabi saw. bersungguh-sungguh mengamalkan shaum hari Senin dan Kamis.”
(Diriwayatkan oleh Abu Hafsah –‘Umar bin ‘Ali-, dari ‘Abdullah bin Daud, dari Tsaur bin Yazid, dari Khalid bin Ma’dan, dari Rabi’ah al Jarsyi, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.)
“Hari Asyura (sepuluh Muharram) adalah hari yang dishaumi kaum Quraisy pada zaman jahiliyah. Rasulullah saw. pun shaum pada hari itu. Manakala beliau tiba di Madinah, beliau shaum pada hari itu dan beliau perintahkan agar hari itu dishaumi. Manakala bulan Ramadhan diwajibkan untuk shaum, maka shaum Ramadhanlah yang menjadi kewajiban, dan beliau timggalkan hari ‘Asyura. Basrang siapa ingin shaum silahkan dan barang siapa yang tidak mau shaum tinggalkanlah.”
(Diriwayatkan oleh Harun bin Ishaq, al Hamdzani, ‘Abdah bin Sulaiman, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari bapaknya, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).
CARA RASULULLAH SAW. MEMBACA AL-QUR’AN.
“Aku bertanya kepada Anas bin Malik r.a. :”Bagaimanakah bacaan (al Qur’an) Rasulullah saw.?”
Ia menjawab :”Bermad (bertajwid).”
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Wahab bin Jurair bin Hazim, dari ayahnya, yang bersumber dari Qatadah r.a.).
“Rasulullah saw. memotong bacannya (pada setiap ayat). Beginilah cara membacanya:
“Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin “, kemudian beliau berhenti. Selanjutnya dibaca :”Arrahmanirrahim”, kemudian beliau berhenti. Selanjutnya dibaca :”Maliki yaumiddin,”
(Diriwayatkan oleh ‘Ali bin Hujr, dari Yahya bin Sa’id al Umawi, dari Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Mulaikah, yang bersumber dari Ummu Salamah r.a.).
TANGIS RASULULLAHSAW.
“Rasulullah saw. bersabda kepadaku:”Bacakan al Qur’an untukku!”
“Wahai Rasulullah saw.! Mana mungkin aku membacakannya kepada Anda, bukankah ia diturunkan kepada Anda?”
Beliau bersabda:”Sungguh aku ingin mendengarkannya dari selain daku.”
Maka kubacakan surat an Nisa, sampai ayat: “Waji’na bika ‘ala ha ula-i syahida.” (Dan Kami mendatangkan kamu sebagai saksi atas mereka). (Q.S. 4 an- Nisa: 41).
‘Abdullah bin Mas’ud berkata :”Maka kulihat kedua mata Rasulullah saw. bercucuran air mata.”
(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan , dari Mua’wiyah bin Hisyam, dari Sufyan, dari al A’masy, dari Ibrahim, dari ‘Ubaid, yang bersumber dari ‘Abdullah bin Mas’ud r.a.).
“Rasulullah saw. mencium ‘Utsman bin Madh’un* tatkala ia telah wafat. Dan ketika itu beliau menangis.”
Atau (kata perawi ragu): “Kedua matanya berlinang air mata.”
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari ‘Ashim bin ‘Ubaidilah*, dari Qasim bin Muhammad*, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).
*’Utsman bin Madh’un adalah saudara sesusu Rasulullah saw. Ia wafat dua setengah tahun setelah hijrah.
*’Ashim bin ‘Ubaidilah dadla’ifkan oleh Ibnu Ma’in, menurut keterangan Bukhari, periwayatnnya munkar.
*Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, merupakan salah seorang fukaha Madinah yang tujuh, dari generasi kedua dan periwayatnnya dikeluarkan oleh jama’ah.
TAWADLU RASULULLAH SAW.
“Rasulullah saw. bersabda :”Janganlah kalian berlebihan memuji daku sebagaimana kaum Nasrani yang berlebihan memuji anak Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, oleh sebab itu katakanlah (panggillah) ‘Abdullah (hamba Allah) dan Rasul-Nya.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, diriwayatkan pula oleh Sa’id bin ‘Abdurrahman al Makhzumi dan sebagainya, mereka menerima dari Sufyan bin ‘Uyainah, dari Zuhri, dari ‘Ubaidilah, dari Ibnu ‘Abbas r.a., yang bersumber dari ‘Umar bin Khattab r.a.).
“Rasulullah saw. bersabda :”Sekalipun kepadaku hanya dihadiahkan betis binatang, tentu akan kuterima. Dan sekiranya aku diundang makan betis binatang, tentu akan kukabulkan undangannya.”
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin ‘Abdullahbin Bazi’, dari Basyar bin al Mufadlal, dari Sa’id dari Qatadah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).
‘Aisyah r.a. ditanya:”Apakah yang dikerjakan Rasulullah saw. di rumahnya ?”
‘Aisyah r.a. menjawab:”Beliau adalah seorang manusia biasa, beliau adalah seorang yang mencuci bajunya sendiri, memerah susu kambingnya sendiri, dan melayani dirinya sendiri.”
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Isma’il, dari’Abdullah bin Shalih, dari Mu’awiyah bin Shalih, dari Yahya bin Sa’id, yang bersumber dari ‘Amrah).
BUDI PEKERTI RASULULLAH SAW.
“Rasulullah saw. bukanlah orang yang keji, beliau tidak membiarkan kekejian, tiada mengeluarkan suara keras di pasar-pasar dan tidak membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan. Beliau suka memaafkan dan berjabat tangan.”
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Muahammad bin Ja’far, dari Syu’bah, dari Abi Ishaq, dari Abi ‘Abdullah al Jadali, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).
“Rasulullah saw. tidak pernah memukul sesuatu dengan tangannya, kecuali tatkala beliau berjihad fi sabilillah. Beliau pun tidak pernah memukul pembantu dan wanita.”
(Diriwayatkan oleh Harun bin Ishaq al Handzani, dari ‘Ubadah, darri Hisyam bin ‘Urwah, dari bapaknya, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).
“Aku mendengar Jabir bin ‘Abdullah r.a. berkata:
‘Tak pernah kudengar Rasulullah saw. dimintai sesuatu, kemudian beliau berkata “tidak”.’
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, yang bersumber dari Muhammad bin al Munkadir r.a.).
“Nabi saw. tidak menyimpan sesuatu untuk hari esok.”
(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, dari Ja’far bin Sulaiman, dari Tsabit, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).
“Sesungguhnya Nabi saw menerima hadiah dan membalas hadiah.”
(Diriwayatkan oleh ‘Ali bin Khasyram dan lainnya, dari ‘Isa bin Yunus, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari bapaknya, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).
KEPEKAAN RASULULLAH SAW.
“Nabi saw. sangat peka melebihi anak dara pada pingitannya. Apabila beliau tidak menyenangi sesuatu, kami dapat mengetahuinya dari perubahan air mukanya.”
(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Abu Daud, dari Syu’bah, dari Qatadah, dari ‘Abdullah bin Abi ‘Utbah, yang bersumber dari Abu Sa’id al Khudri r.a.).
‘Aisyah berkata :”Aku tidak pernah memandang kemaluan Rasulullah saw.”
Atau ia berkata :”Sekali-kali aku tidak pernah melihat kemaluan Rasulullah saw.”
(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Waki’, dari Sufyan, dari Manshur, dari Musa bin ‘Abdullah bin Yazid al Khathimi, dari Maula ‘Aisyah, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).
BEKAM RASULULLAH SAW.
“Rasulullah saw. berbekam, yang membekamnya adalah Abu Thaibah, maka beliau memerintahkan untuk memberinya dua sha’* makanan. Rasulullah saw. berbicara kepada tuannya (tuan tukang bekam), lalu mereka mengugurkan kharajnya*.”
Rasulullah saw. bersabda :”Sesungguhnya cara pengobatan kalian yang paling afdhal ialah berbekam.”
Atau (perawi ragu) :”Sesungguhnya cara pengobatan kalian yang utama adalah berbekam.”
(Diriwayatkan oleh ‘Ali bin Hujr, dari Isma’il bin Ja’far, dari Humaid, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).
*Abu Thaibah adalah nama panggilan bagi Nafi’, ia adalah budak Bani Haritsah atau budak kepunyaan Abu Mas’ud al Anshari.
*Sha’(gantang) adlah takaran. Satu Sha’sama dengan empat mud, sedangkan satu mud sama dengan tujuh ons.
*Kharaj ialah suatu kesepakatan antara tuan dengan budak untuk membayar kepada tuannya sejumlah uang, sewaktu budak tidak bekerja pada tuannya.
Dalam peristiwa ini Abu Thaibah seharusnya membayar tiga Sha’, tapi karena ia telah membayar dua Sha’, hasil membekam Rasulullah saw. maka yang satu Sha’lagi digugurkan oleh tuannya setelah Rasulullah saw. berbicara dengan tuannya.
“Nabi saw. berbekam dan memerintahkan kepadaku (untuk membayar), maka kuberikan pada tukang bekam upahnya.”
(Diriwayatkan oleh ‘Amr bin ‘Ali, dari Abu Daud, dari Waraqa’ bin ‘Umar, dari ‘Abdil A’la, dari Abi Jamilah, yang bersumber dari ‘Ali k.w.).
“Rasulullah saw. pernah berbekam pada dua urat leher dan tengkuk. Beliau berbekam pada tanggal 17,19, dan 21.”
(Diriwayatkan oleh ‘Abdul Quddus bin Muhammad al ‘Athar al Bashri, dari ‘Amr bin ‘Ashim, dari Hamman, dan diriwayatkan pula oleh Jarir bin Hazm, keduanya menerimanya dari Qatadah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).
“Rasulullah saw. bersabda :”Barangsiapa berbekam pada tanggal 17,19 dan 21, tentulah tindakannya itu jadi penyembuh bagi setiap penyakit.”
(Riwayat Abu Daud)
KEHIDUPAN RASULULLAH SAW.
“Kami berada di samping abu Hurairah r.a. sedang ia memakai dua lembar kain kattan* yang dicelup bahan Lumpur merah. Lalu ia membuang ingusnya pada salah satu dari dua kainnya itu. Ia berkata : “Bakh, Bakh*”.
Abu Hurairah membuang ingusnya pada kain kattan itu. Selanjutnya ia bercerita :”Sungguh, aku teringat kembali ketika aku tersungkur diantara mimbar Rasulullah saw. dengan kamar ‘Aisyah r.a. karena pingsan. Tiba-tiba datang seorang laki-laki lantas ia letakkan kakinya di atas leherku. Ia mengira aku dalam keadaan gila. Sebenarnya aku tidak gila, tapi kejadian itu hanyalah kelaparan.”
(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, dari Hammad bin Zaid, dari Ayyub, yang bersumber dari Muhammad bin Sirin*).
*Kain Kattan ialah kain yang terbuat dari serat kayu. Atau kain yang dibuat dengan cara kasar, biasanya disebut kain rami.
*bakh, bakh ialah kalimat yang sering digunakan oleh orang Arab untuk menyatakan rasa kagum, atau rasa senang, atau tidak menyenangi sesuatu. Pada hadist ini, kalimat bakh, bakh berarti suatu isyarat terhadap pernyataan kurang senang, atau keadaan yang menyedihkan.
*Muhammad bin Sirin al Bashri adalah maula (budak yang dibebaskan) Anas bin Malik r.a.
“Rasulullah saw. tidak pernah kenyang makan roti, dan tiada pula dengan daging, kecuali dalam keadaan dlaffaf.”
(Diriwayatkan oleh Qutaibah, dari Ja’far bin Sulaiman ad Dluba’I, yang bersumber dari Malik bin Dinar r.a.).
Malik bin Dinar selanjutnya berkata: “Aku bertanya kepada seorang laki-laki dari pedusunan: “Apa yang dimaksud dengan dlaffaf?”
Ia menjawab: “Makan bersama orang banyak.”
“Sesungguhnya kami, keluarga Muhammad saw. pernah selama sebulan tidak menyalakan api (tidak menanak apapun) kecuali korma dan air.”
(Diriwayatkan oleh Harun bin Ishaq, dari ‘Ubadah, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).
“Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya aku dijadikan takut oleh Allah dan tiada seorangpun yang diberi rasa takut sebagaimana aku. Sungguh, aku telah ditimpa cobaan di jalan Allah, dan tiada seorangpun yang mendapat cobaan sebagaimana aku. Sungguh merupakan pengalaman bagiku, yaitu selama tiga puluh hari tiga puluh malam, aku dan bilal tidak mendapatkan makanan yang pantas dimakan orang yang mempunyai rongga perut. Waktu itu hanya ada sedikit makanan yang disembunyikan pada ketiak bilal.”
(Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman, dari Rauh bin Aslam Abu Hatim al Bashri, dari Hammad bin Salamah, dari Tsabit, yang bersumber dari Anas r.a.).
NAMA-NAMA RASULULLAH SAW.
Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya bagiku ada beberapa nama, Yaitu: Aku Muhammad, aku Ahmad dan aku al Mahi, maksudnya: dengan jalan aku, Allah membasmi kekafiran. Aku juga digelari al Hasyir, yang maksudnya: umat manusia dihimpun di belakangku. Akupun digelari al ‘Aqib (penerus para Nabi)”
al Aqib adalah yang tiada diiringi di belakangnya oleh hadirnya seorang Nabi.”
(Diriwayatkan oleh Sa’id bin ‘Abdurrahman al Makhzumi dan lainnya, dari Sufyan, dari az Zuhri, dari Muhammad bin Jabir bin Muth’im bin ‘Adi*, yang bersumber dari bapaknya).
*Muth’im bin ‘Adi adalah pembesar kota Mekkah.
“Aku bertemu dengan Nabi saw. pada suatu jalan di Madinah. Ia bersabda: “Aku Muhammad, aku Ahmad, aku Nabiyur-Rahmah(Nabin pembawa Rahmat) dan aku Nabiyut-Thaubah (Nabi pengajar taubah). Aku al Muqaffi (yang datang mengikuti jejak para Nabi). Aku al Hasyir dan Nabiyul Malahim (Nabi yang mengalami beberapa peperangan).”
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Tharif al Kufi, dari Abu Bakar bin ‘Iyyasy*, dari ‘Ashim, dari Abi Wa’il, yang bersumber dari Hudzaifah r.a.).
*Abbu Bakar bin ‘Iyyasy, nama sebenarnya diperselisihkan. Ada yang mengatakan Muhammad, ada yang mengatakan ‘Abdullah, atau Salim, atau Syu’bah. Namun kesemuanya juga Tsiqat.
USIA RASULULLAH SAW.
“Nabi saw. tinggal di Mekkah (setelah menjadi Rasul) tiga belas tahun. Di sana beliau mendapat wahyu. Di Madinah sepuluh tahun. Beliau wafat dalam usia enam puluh tiga tahun.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, dari Rauh bin ‘Ubadah, dari Zakaria bin Ishaq, dari ‘Amr bin Dinar, yang bersumber daari Ibnu ‘Abbas r.a.).
“Sesungguhnya Rasulullah saw. wafat dalam usia enam puluh tiga tahun.”
(Diriwayatkan oleh Husein bin Mahdi al Bashri, dari ‘Abdurrazaq, dari Ibnu Juraij, dari Juraij, dari Zuhri, dari ‘Urwah, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).
WAFAT RASULULLAH SAW.
“Terakhir kali aku memandang Rasulullah saw. yaitu tatkala tirai kamarnya dibuka pada hari Senin. Aku memandang wajahnya bagaikan kertas mushaf (dalam keelokan dan kebersihannya). Orang-orang shalat di belakang Abu Bakar r.a. Hampir saja terjadi kegoncangan diantara umat, kemudian ia (Abu Bakar r.a.) memerintahkan umat agar tenang. Abu Bakar memimpin mereka, tirai kamar Nabi saw. dibuka, dan Rasulullah saw. kedapatan telah wafat pada akhir hari itu.”
(Diriwayatkan oleh Abu ‘Ammar al Husein bin Huraits, dan diriwayatkan pula oleh Qutaibah bin Sa’id dan sebagainya, mereka menerima dari Sufyan bun ‘Uyainah, dari Zuhri, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).
“Tatkala Rasulullah saw. sakit, beliau (Rasulullah) sempat pingsan, kemudian sadar kembali.
Beliau bersabda: “Apakah waktu shalat telah tiba?”
Para sahabat menjawab: “Ya”.
Kemudian beliau bersabda: “Perintahkan Bilal agar mengumandangkan adzan dan perintahkan agar Abu Bakar shalat (menjadi imam) bagi umat (atau beliau berkata, perawi ragu) bersama umat.”
Selanjutnya Salim berkata: “Kemudian beliau pingsan kembali, kemudian sadar kembali, seraya bersabda: “Apakah waktu shalat tiba telah tiba ?”
Para sahabat menjawab: “Ya”.
Kemudian beliau bersabda: “Perintahkan agar Bilal mengumandangkan adzan dan perintahkan agar Abu Bakar melaksanakan shalat bersama umat.”
‘Aisyah berkata (usul) kepada Rasulullah saw. : “Sesungguhnya ayahku amat perasa. Bila ia berdiri di tempat itu (tempat Rasulullah saw. mengimami), ia akan menangis, dan ia takkan mampu berdiri. Bagaimana sekiranya Anda perintahkan saja orang lain!”
Salim bercerita lagi: “Kemudian beliau pingsan lagi, kemudian sadar kembali, seraya bersabda: “Perintahkan agar Bilal mengumandangkan adzan dan perintahkan agar Abu Bakar melaksanakan shalat dengan umat (menjadi imam).Sesungguhnya kalian (wahai kaum wanita) bagaikan wanita pada masa Nabi Yusuf**.”
Kemudian Salim melanjutkan ceritanya: “Maka Bilal diperintahkan, ia pun mengumandangkan adzan dan Abu Bakar diperintah, ia pun shalat bersama umat (menjadi imam).
Kemudian Rasulullah saw. agak berkurang rasa sakitnya, maka beliau bersabda: “Carikan untukku orang yang bersedia aku telekani!” Maka datanglah Burairah* dan seorang laki-laki lainnya, kemudian Rasulullah saw. bertelekan pada keduanya.
Manakala Abu Bakar melihatnya, ia pun mengundurkan diri (dari kedudukan menjadi imam), namun Rasulullah saw. mengisyaratkan agar ia tetap di tempat, akhirnya Abu Bakarpun selesai mengerjakan shalat (mengimami).*
Kemudian Rasulullah saw. wafat, maka ‘Umar bin Khattab r.a. berkata: “Demi Allah, tiada seorangpun yang kudengar menyebutkan Rasulullah saw. wafat, melainkan akan kupancung (kepalanya) dengan pedangku ini!”
Salim menceritakan lagi: “Umat pada waktu itu tidak mengetahui. (Hal itu dapat di mengerti) sebab sebelumnya tidak ada pada seorang Nabi. Maka sewaktu ‘Umar berbuat demikian umat hanya berdiam diri.
Kemudian mereka berkata: “Wahai Salim! Berangkatlah engkau menemui sahabat Rasulullah saw. (Abu Bakar) dan panggillah kemari!”
Kutemui Abu Bakar sewaktu ia berada di dalam masjid. Kudekati dia sambil menangis karena kebingungan.
Manakala ia melihat daku, iapun bertanya: “Apakah Rasulullah saw telah wafat?”.
Aku menjawab: sungguh umar berkata: “tak seorangpun yang kudengar menyebut rasulullah saw. wafat, melainkan ia akan aku pancung dengan pedangku ini!”
Abu Bakar berkata kepadaku: “Sudah, berangkatlah!”
Maka berangkatlah aku bersamanya. Setibanya, orang-orang telah masuk ke rumah Rasulullah saw., untuk itu ia berkata: “Wahai umat Muhammad! Berilah aku jalan!”
Kemudian mereka memberi jalan untuk Abu Bakar. Ia menghampiri jenazah Rasulullah saw. ia bersimpuh dan menyentuhnya, seraya membaca al-Qur’an (Q.S 39 az Zumar: 30), yang artinya: “Sesungguhnya engkau akan mati dan sesungguhnya mereka pun akan mati.”
Para sahabat bertanya: “Wahai sahabat Rasulullah saw! (ditujukan kepada Abu Bakar) Apakah Rasulullah saw. telah wafat ?”.
Ia (Abu Bakar) menjawab: “Ya”.
Tahukah mereka bahwa benar apa yang terjadi.
Mereka berkata: “Wahai sahabat Rasulullah, apakah dilakukan shalat jenazah juga bagi Rasulullah saw. ?”
Ia menjawab: “Ya”.
Mereka bertanya lagi: “Bagaimanakah caranya?”.
Ia menjawab: “Serombongan masuk, kemudian bertakbir, membaca shalawat dan berdo’a, kemudian keluar. Setelah itu masuklah serombongan berikutnya, lalu bertakbir, membaca shalawat dan berdo’a, kemudian keluar sampai semua orang kebagian.”
Mereka bertanya lagi: “Wahai sahabat Rasulullah saw! Apakah Rasulullah saw juga dikebumikan?”.
Ia menjawab: “Ya”.
Mereka bertanya: “Di mana?”.
Ia menjawab: “Di tempat beliau wafat, di mana Allah mencabut ruhnya pada tempat itu, karena Allah tidak mencabut ruhnya melainkan padqa tempat yang baik.”
Yakinlah mereka bahwa apa yang dikatakan Abu Bakar itu benar.
Kemudian ia memerintahkan mereka agar yang memandikan beliau adalah sepupu beliau dari garis keturunan ayah beliau. Orang-orang Muhajirin bermusyawarah (tentang khalifah sesudahnya) maka berkatalah mereka: “Tenuilah teman-teman kita dari kelompok Anshar, kita ikut sertakanmereka bersama kita pada perumusan perkara ini (Khalifah)!”
Golongan Anshar berkata: “Dari golongan kami seorang wakil.”
‘Umar bin Khattab berkata: “Siapakah gerangan yang dapat menandingi orang yang memiliki tiga keutamaan?
Ia adalah salah seorang dari dua orang di kala keduanya (Abu Bakar dan Nabi saw.) berada di dalam gua. Di kala itu Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kamu berduka cita sesungguhnya Allah bersama kita.” (Q.S. at Taubah:40).
Siapakah gerangan orang yang berdua itu?
Salim melanjutkan ceritanya:
Kemudian ia (‘Umar) mengulurkan tangannya, maka mereka para sahabat berbai’at kepadanya (Abu Bakar) dan seluruh umat pun ikut memberikan bai’at kepadanya dengan bai’at yang tulus ikhlas.”
(Diriwayatkan oleh Nashr bin ‘Ali al Jahdlami, dari ‘Abdullah bin Daud, dari Salamah bin Nubaith, dari Nu’aim bin Abi hind, dari Nubaith bin Syarith, yang bersumber dari Salim bin ‘Ubaid r.a.).
*Salim bin ‘Ubaid al Asyja’i adalah sahabat Rasulullah saw. yang Tsiqat. Ia adalah salah seorang dari ahli shufah (yang tinggal diemper masjid), Sebagaimana Abu Hurairah. Periwayatannya dikeluarkan oleh ahli hadist yang empat dan imam Muslim.
** Maksudnya dalam menyatakan perasaan yang tersembunyi.
*Burairah berasal dari Habsyi, ia adalah budak yang telah dimerdekakan oleh ‘Aisyah r.a.
HARTA PUSAKA RASULULLAH SAW.
“Rasulullah saw. tidak meninggalkan pusaka kecuali sebilah pedang, seekor keledai dan sebidang kebun yang dijadikan sebagai sedekah.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, dari Husein bin Muhammad, dari Israil, dari Abi Ishaq, yang bersumber dari ‘Amr bin al Harits r.a.*).
*Ia adalah saudara Juraiyah (isteri Rasulullah saw.).
MIMPI BERTEMU DENGAN RASULULLAH SAW.
“Barang siapa bermimpi melihatku di dalam tidurnya maka sesungguhnya ia benar-benar melihatku. Karena sesungguhnya syaitan tidak mampu menyerupaiku.”
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari Abi Ishaq, dari Abil Akhwash, yang bersumber dari ‘Abdullah bin Mas’ud.”)
“Sesungguhnya Nabi saw. bersabda: “Barang siapa melihat aku pada waktu tidur (mimpi), maka sesungguhnya ia benar-benar melihat aku. Sesungguhnya syaitan tidak dapat menyerupaiku.”
Beliau bersabda lagi: “Dan mimpi orang yang Mu’min itu merupakan satu bagian dari 46 bagian sifat kenabian.”
(Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman ad Darami, dari Mu’alla bin Asad, dari ‘Abdul ‘Aziz bin Mukhtar, dari Tsabit, yang bersumber dari Anas r.a.).
penutup
Dengan segala kerendahan diri, puji serta syukur kita hanya teruntuk Tuhan yang satu, Tuhan Yang Agung, Tiada Tuhan Selain-Nya, Allah swt. serta shalawat dan salam semoga selalu dilimpahkan kepada junjungan kita, suri tauladan kita, ya Habiballah Nabi Muhammad saw. beserta keluarga, sahabat dan pengikut-pengikutnya hingga akhir zaman.
Sungguh betapa indah dan betapa beruntungnya umat Nabi saw. yang hidup di masa beliau hidup, umat yang ikut setiap jejak langkah beliau berjihad fi sabilillah di bawah panji la ilaha ilallah. Namun sebenarnya kita lebih baik karena kita umat Nabi saw. yang hidup di masa beliau telah tiada berabad-abad lalu tetapi kita selalu mencintai dan merindukan Rasulullah saw. dan seharusnyalah bila kita mengaku mencintai dan merindukan beliau maka ikutilah sunnah- sunnah beliau tetapi tetap dahulukanlah yang wajib. Sesungguhnya Nabi saw. tidak akan puas, tidak akan bahagia, tidak akan senang jikalau seorang dari umat beliau masih berada dalam neraka.
Wahai Rasulullah saw. betapa indahnya dirimu, engkau suri tauladan yang baik.
Wahai Rasulullah engkau adalah sebaik-baik ciptaan yang diciptakan oleh Allah swt.
Wahai Rasulullah saw. betapa dinantikannya dirimu, hingga para Nabi sebelummu pun ingin menjadi umatmu.
Wahai Rasulullah saw. betapa dicintainya engkau, hinga saat engkau wafat tiada yang percaya bahkan sahabat ‘Umar berkata: “Tak seorangpun yang kudengar menyebut Rasulullah saw. wafat, melainkan ia akan kupancung dengan pedangku ini!”
Wahai Rasulullah saw. sungguh diri ini, ruh ini dan seluruh umatmu umat muslim mencintai dan merindukanmu, maka berilah syafa’at kepada kami dihari akhirat nanti agar kami dapat berkumpul dengan engkau di surga Allah swt.
Sungguh tiada kesenangan yang melebihi kesenangandisaat terlantunkan kalimat-kalimat Al-Qur’an.
Sungguh tiada kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan disaat teringat akan kabar gembira yang dijanjikan Allah swt dalam setiap ayat Qur’an.
Sungguh tiada kesedihan melebihi kesedihan disaat terbaca kalimallah yang mengabarkan tentang kepedihan yang akan kau berikan kepada orang-orang yang lalai.
Sungguh tiada ketakutan yangt melebihi ketakutan akan azabmu yang pedih.
Dan sungguh tiada ketenangan dan kedamaian yang tercipta layaknya saat terlantunkan lisan dan hati ini mengucap LA ILAHA ILALLAH MUHAMMADUR RASULULLAH.
Ya Allah semoga buku ini dapat menyegarkan hati umat islam dan mengabarkan betapa mulianya manusia yang Kau ciptakan sebagai khataman nabiyyin. Semoga kami yang mempelajari buku ini Kau masukkan ke dalam golongan orang-orang yang Kau ampuni dosanya dan orang-orang yang mendapatkan syafa’at dari Baginda Nabi Muhammad saw.
Amiin ya robbal ‘Alamiin.
Disalin dari tarjamah hadist mengenai PRIBADI DAN BUDI PEKERTI RASULULLAH SAW.
karya At-Tirmidzi.
diterbitkan cv. Diponegoro, Bandung.
Ditulis Ulang sebagian oleh : Supriyanto.
RIYADHUS SHALIHIN Imam Nawawi.
Dari ‘Umar bin Khattab r.a., ia berkata: Rasulullah bersabda: “Janganlah kamu sekalian memakai kain sutera, karena sesungguhnya orang yang memakainya di dunia, maka kelak di akhirat ia tidak akan memakainya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dari ‘Ali r.a., berkata: Saya melihat Rasulullah saw. memegang kain sutera di tangan kanannya dan memegang emas di tangan kirinya, kemudian bersabda: “Sesungguhnya dua benda ini adalah haram bagi umatku yang laki-laki.”
(HR.Abu Daud)
Dari Anas r.a., ia berkata: “Rasulullah telah memberi kemurahan kepada Zubair dan Abdurrahman bin ‘Auf r.a. untuk memakai kain sutera karena penyakit gatal-gatal.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
"Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui" Surah : Al-Baqarah 2:22